Damaikah Papua!!

Catatan Pinggir :

Hidup ini harus baik kepada siapa saja, “Jangan berkelahi kamu harus mengalah dengan begitu kamu akan menang” kata mama saja ketika melihat saya berkelahi dengan teman saya tetangga sebelah rumah kami. Apalagi bila permasalahan kecil ini sampai-sampai orang tua turun tangan, ini bisa membuat suasana lebih memanas. Sikap uraian begini yang menciptakan budaya kekerasan terpelihara subur. Budaya damai telah berakar subur pada hati mama ku.

Mama ku tidak ingin melihat permasalahan, siapa yang salah dan siapa yang benar. Ia memilih menasihatiku supaya tidak mengulang perbuatan ini, tapi aku terusterang teman ku yang memulai, dengan menendang jahu bola kakiku inggah masuk ke semak rumput di samping rumahku. Ia memilih rukun, tidak usah pertikaian mulut, katanya, kita hidup harus meresapi nilai-nilai luhur yang terkandung dalam budaya kita sendiri, dengan begitu jati dirimu sebagai orang papua tetap terpelihara.

Dasar budaya damai (peace culture basic) sangat melekat dalam pemikirannya. Tapi saya tak puas karena yang benar harus di benarkan dan yang salah harus disalahkan, itu yang adil, seolah-olah karena kedudukan, status social, kepemilikan yang membuat kami harus mengalah, kami harus tetap bisa tersenyum biarpun keadilan itu jahu dari kami. Itulah makna yang saya tangkap dari sikap mama, namun jika dimintah tanggapan tentang pelanggaran hak asasi manusia, sebelum dan sesudah pepera tahu 1969 antara West Papua (irian barat) dan Indonesia (kolonialisme), pasti cara pandang mama berbeda atau paling tidak, ia memilih tak berkomentar, aku ragu !! saya tidak yakin mama terprovokasi. Karena ia adalah saksi sejarah kekejian kolonialisme pada saat itu.

Sikap apa yang harus kita pilih dalam melihat segalah persoalan yang telah dan akan terjadi lagi di depan mata kita masing-masing. Hati bergetar-getar !!, meraung emosi, diam membisu atau tak merasa kesedihan dan keangkuan yang tinggi. Itulah pilihan kita, memang setiap orang melihat persoalan berbeda-beda. Saya termasud yang suka emosi, jika melihat ketidak wajaran terjadi. Meraung emosi dan hati jengkel. Juga dalam persoalan konflik di tanah papua. Tanah Papua yang di huni oleh 300 san lebih suku, setiap harinya direnggut oleh tangan-tangan kekuasaaan yang keji dari teman-teman tercinta, dan beberapah di curi dari lingkungan keluarga dan dari tanah yang menyenangkan indah, hilang tanpa jejak entah kemana.

Disaat budaya kekerasan mulai menampakan muka dan taringnya, ada seruan moral yang ingin mengakhiri budaya kekerasan, 20 september 2005 seruan moral dikomandangkan oleh para pemuka-pemuka agama di kota port numbay, dengan seruan papua zona damai atau papua tanah damai. Itu adalah awal baru, tapi kalau hanya mengomandangkan atau mengkampanyekan begitu saja, namun semua umat tuhan di tanah ini tidak meresapi apa artinya damai itu sebenarnya,! Artinya sama saja, “seperti ikan dalam belat”

Saya lebih suka melihat bahwa problema-problema utama dipapua bukan karena, kecemburuan social, Unsur SARA, religious atau masalah kapasitas manusia, namun semua itu hanyalah ranting-rantingnya, sedangkan akar permasalahan sehingga papua bukan lagi tanah damai, kata mama ku dulu, kita harus melihat kebelakang, tentang sejarah papua, sebelum dan sesudah pepera 1969. Sudah banyak para Intelektual, Agamawan, Negarawan dan Aktivis mengadakan kampanye besar-besaran, membuat karangan-karangan buku untuk mempublikasikan, akar persoalan dan solusi-solusi positif. Namun sangat kacau, malahan Indonesia sangan curigai terhadap para para Intelektual, Agamawan, Negarawan dan Aktivis yang sebenarnya memberikan peran penting berupah pemikiran dalam penelitihan yang logis. Malahan Makar, Kriminal, Pengasutan menjadi balasan Bangsa itu. Sangat tragis, baru sampai kapan saling curigai akan berakhir!!! dan budaya kekerasan berakhir!!

Kalau demikian keinginan menciptakan budaya damai di tanah papua itu, tidak ada, karena sikap setiap orang-orang yang berkompeten, menghadapi persoalan di papua berbeda-beda dengan cara pandang mereka masing-masing. Pihak aparat keamanan lebih-lebih menyukai menyelesaikan persoalan dengan cara kekerasan, dengan alat Negara, yang seharusnya menyelesaikan persoalan di kota adalah kepolisian bahkan yang turun lagi Tentara, Brimob, belum lagi yang main di belakang layar seperti Intelegen. Hu….. semua bergerak, mungkin ini perintah dari atasan Badan Intelejen Indonesia (BIN)… k! atau presiden…k!. Maklum mungkin pemerintahannya, berbentuk demokrasi terpimpin, seperti orde lama tempoe doeloe…!!Karena mereka dikomandangi oleh satu komando, jadi atasan memerintah tembak di tempat, mahu tidak mahu harus dijalankan meskipun sasaranya adalah saudarah se-daerah, saudara se-iman ataupun saudarah sekandung, sikap egois yang berlebihan dalam menjaga bumi papua, duka-cita menyelimuti tanah ini alam pun mengeteskan air matanya, melihat apa yang seharusnya tak terjadi, pun terjadi karena oleh kekersan. Kita tahu setiap aparat mempunyai moral, mempunyai kepercayaan, mereka hidup juga dengan budaya cintah damai, yang telah mereka dapatkan semasa kanan-kanak. Tapi sekarang moral mereka ambruk, hidup dalam dilema, menjalankan tugas Negara dengan melakukan kekerasan atau mengikuti suara hati dan kepercayaannya. Mana yang menjadi pilihanmu!! Sedangkan pemerintah daerah dan pemerintah pusat, pun jalan sendiri-sendiri, UU Otsus No 21 tahun 2001 untuk papua, diberikan karena tuntutan masyarakat papua ingin memisahkan diri dari Negara kesatuan republik Indonesia (NKRI), namun amanat Otsus dapat mengurus mengurus dirinya sendiri, dengan begitu orang papua dapat menjadi tuan diatas tanahnya sendiri, dalam mengatur sumber daya alam dan meningkatkan sumber daya manusia, diatas tanah papua ini, tanpa intervensi pihak-pihak lain, eh………malah UU No 21 baru diberikan, diberlakukan lagi UU Nomor 45 Tahun 1999 tentang pemekaran provinsi di tanah paua, sangat disayangkan, kecurigaian masih melekat, lahir provinsi papua barat dan akan di susul dengan provinsi yang lainnya lagi, saya tidak katakan bahwa pemekaran suatu derah itu salah, tapi di dalam produk UU Otsus di dalamnya telah mengatur pemekaran itu sendiri, pemekaran itu baik, untuk memperpendek pelayanan publik, terhadap masyarakat papua yang terisolir, tetapi cara pemerintah pusat sangat salah, selalu mengintervensi segalah kebijakan daerah dan tidak seenaknya saja ”hargailah segalah upaya-upaya yang dibuat oleh pemerintah daerah.

Moral politikus-politikus lokal papua juga jempolan, kalah dalam berpolitik, bukannya mengaku kalah dan bersama-sama membangun tanah papua, malah membuat kubu baru, berupah tim pemekaran, membodoi masyarakat, mengatas namakan aspirasi rakyat papua, dengan paras wajah yang kuat, terbang ke Jakarta. Berdiri dengan tegap dan bersuara lantang di depan pemerintah pusat, lanjut pemerintah pusat merespon dengan bahasa yang memuji-muji kepada tim pemekaran, “ok….saya akan memberikan apa yang menjadi aspirasi masyarakat”. Toh …! Apa fungsi dari Pemdah, DPRP dan MRP, mengapa aspirasi itu di bawah ke jakarta? Haruskan ada rekomendasi dulu dari Pemdah, DPRP dan MRP, sangat disayangkan, apakah dengan kekayaan dan wanita sehingga masyarakat kecil di bodohi, inggah cekcok antar sesama anak bangsa! Kita harus mengintrospeksi diri kita masing-masing.

Menurut mama Teresa dari kalkuta ketika menerima hadiah nobel, ia ditanya : “ apa yang dapat kita lakukan untuk mendukung perdamaian? jawaban mama Teresa sangat sederhana: “ pulanglah dan cintailah keluargamu” jawaban mama Teresa sangat sederhana. Awal manusia beriteraksi sebelum melakukan aktivitasnya masing-masing adalah di dalam keluarga tersebut. Jangankan masalah politik lebih rumit, dalam kehidupan komunitas yang paling kecil yaitu keluarga pun “ perang” antar anggota keluarga gampang sekali muncul, si suami di curigai ada main dengan wanita lain. Persoalannya: pulang tengah malam, tidak mengacuhkan istri , dan tidak punya waktu untuk keluarga. Maka, kala suami pulang malam tanpa loyo, kontan disambut wajah cemberut, tak hanya itu segalah kata-kata kebun binatang di keluarkan dengan suara yang menggelegar.

Dramatis pun terjadi, masalah sepele di bumbui segalah persoalan. Buah cintah kasih, pengertian dan harmonis yang telah di tanam bertahun-tahun mulai retak, dengan mulai mengangkat dan mengkaji segala macam persoalan yang sudah tersimpan, sang suami mulai menyalakan istri, sang istri pun mengangkat kebiasaan buruk sang suami, pendeknya kedua bela pihak tidak menemukan kebahagiaan. Walau fakta tanpa di sadari mereka bahagia misalnya ada anak, jabatan, title dan tentu harta, yang dirasakan kekeributan menjurus kekerasan. Memang kehidupan itu perlu keterbukaan, bukan melulu tertutup, kedamaian itu tak terlepas dari keterbukaan. Dan yang kurang disadari, ada tiga bentuk waktu dalam kehidupan waktu lampau, sekarang dan akan datang. Masa lampau, berupah kenang-kenangan baik dan buruk perilaku kita, seharusnya ini yang menjadi pelajaran berharga, supaya masa sekarang dan akan datang, kita lalui dengan lebih baik lagi.

Padahal mungkin saja ada anak-anak mereka ingin mendengar salah satu orang tua mereka: saling memintah maaf seperti biasanya, namun kekeributan menjurus kekerasan telah menutup mata hati mereka! tidak ada kata maaf lagi! Dan tidak sudi lagi mengkaji kembali komitmen awal menjalin ikatan hidup seatap, maka jalan pintasnya, ”Broken Home”. Dua jam telah berlalu dan segalah macam perkataan kedua orang tua mereka pada saat keadaan memanas, sang anak mengamati dan menyimpan dengan rapi di benak anak sehingga peraasan, kebencian, cemburu, iri hari, kesal mendalam, akan apa yang terjadi dan sudah tumbuh juga benih kekerasan mengimpit kehidupan sang anak yang polos dan penuh dengan cinta kasih tersebut. Intinya bahwa psikis anak terganggu. Begitulah kehidupan, mungkin betul: dasar budaya damai mamaku tempoe doeloe : “hidup itu harus baik kepada siapa saja.” Namun persoalan di tanah papua, sikap budaya damai tidak diinginkan tercipta, di mata saya, apa yang dilakukan oleh setiap orang yang berkopeten ingin menciptakan budaya kekerasan di tanah papua.

There are no comments on this page.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: