Harga Diri

Harga Diri dan Warga Negara

Suatu Renungan

 

Bangsa itu penuh dengan gejolak yang kian semakin menjadi-jadi, Masalah Korupsi, Pelanggaran HAM, Tenaga Kerja Indonesia (TKI), belum lagi masalah Persepakbolaan Indonesia (PSSI) dan yang lainnya bagaikan air hujan deras yang ditampung di drum untuk dipakai dalam kebutuhan sehari-hari oleh sebagian besar warga di nusantra, penuh dan terus tumpah-ruah berhamburan sehingga tak bisa lagi bahkan tak tahu mana yang sudah dan akan dalam proses penyelesaian gejolak tersebut. Papua penuh dengan gejolak, tanah yang pernah penuh dengan kedamaian itu kian berubah menjadikan tanah kejahatan kemanusiaan. Berbagai  suku bangsa berdatangan menjadikan Tanah Papua sebagai rumah bersama dengan kepentingan yang berbeda-beda sedangkan Orang Papua penuh dengan intrik persoalan batinia,  kalau ada yang komentar bahwa manusia hidup bila akan menjadi dewasa harus melalui persoalan apa saja….! Itu wajar dan dapat dibenarkan tapi bila ada oknum, institusi yang secara kelembagaan menginginkan persoalan terjadi dan dipelihara? Bagaimana jadinya..!. ha…itu sangat komplek, masalah moral saja sering dikesampingkan.

Malam akhir pekan, adek teman ku, Anak Baru Gede (ABG) tersebut menikmati remang-remang kota metropolitan. ABG itu terkejut setelah mendengar suara nan ayu dari dalam taman kota itu “ hai cowo sendirian yah..bisa ditemani”, darah muda tersebut termakan nafsu bisikan iblis, tak panjang lebar sang ABG menyambar pemilik suara nan ayu,  setelah itu saling bertatapan dan terjadilah teransaksi gilaan,… pendek cerita hendak  melampiaskan nafsu birahi di salah satu rumah border, terjadilah sweeping oleh Pol.PP kota, di tangkap semuanya dan digiring ke kantor, wah….malunya mintah ampun apalagi kalau di introgasi panjang lebar mengenai statusnya, pendidikan, usia, pekerjaan orangtua, dll, muka ini mahu taruh dimana!, Harga Diri turun drastis, realita Warga Negara yang tak Kontrol perilaku negatifnya dan otomatis menenggelamkan Harga Dirinya.

Salah satu Filosofi orang papua adalah bercerita, bercerita atau berbicara kepada sesama merupakan cara orang papua mengekspresi, kesenangan, emosional berupah maklumat, visi kedepan, kepada siapa saja yang di anggap perlu untuk mendapatkan informasi jadi jangan heran bila cerita tempo dulu, menjadi rumor dewasa ini.

Saya melihat Persoalan papua adalah Persoalan Harga Diri,  selama ini tanah papua telah dicerai-beraikan tanpa melihat masukan dari Warga Negara pemilik Tanah Papua, orang di pusat dan daerah sering berfikir dengan pemekaran wilayah, pemberian jabatan kepada putra daerah, dan program primadona Pemerintah Provinsi Rencana Strategis Pembangunan Kampung (Respek) akan memberikan nilai pembangunan tersendiri agar Harga Diri Orang Papua Kembali dipulihkan. Padahal perlu dilihat adalah apakah Warga Negara Orang Papua menyadari perlu ada pemekaran, sudah patutkah dan berpengalaman  putra daerah menduduki suatu jabatan tertentu, Program Respek apakah telah menyentuh Warga Negara Orang Papua, demikian pertanyaan sederhananya.

Persoalan papua adalah menyangkut Harga Diri sebagai Orang Papua yang mempunyai adat-istiada beraneka ragam, banyak cerita orangtua di kampung tempo dulu yang membicarakan mengenai gejolak politik pada tahun 1960 hingga sekarang, memuat tentang perilaku bringas para oknum militer kolonialisme dengan berbagai kepentingan entah itu ekonomi, politik dll.., “di kampung ini pernah ada pembantaian, untuk melampiaskan hawa nafsu di perkosa setiap anak-anak remaja putri, bahan makanan mereka habis lalu bukannya memintah atau tukar dengan barang berharga kepada masyarakat, tapi mereka merampas hasil kebun dan ternak kami, pada saat mengambil hasil orangtua dulu terjadi perlawanan yang mengakibatkan korban jiwa”, dengan bahasa sederhana, sambil  meminum kopi pahit, cerita seperti begini bukan hal yang perluh ditutupi, adalagi Operasi Koteka, semua diwajibkan memakai pakaian dan segera menggantikan cawat atau koteka (pakaian tradisional).

Jangankan kejadian bejat di kampung yang sangat terisolir menjadi buah bibir, dewasa ini juga di Negara tetangga hal perilaku bejat juga terjadi, masih teringat diingatan berita di TV Nasional, memberitakan tentang Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia di Malaysia (Negeri Jiran) membunuh majikannya, persoalannya TKW hendak di perkosa, terjadilah perlawanan hingga menyebabkan majikan meninggal dunia, setelah TKW memukul majikan dengan peralatan seadanya. TKW Indonesia ini menunjukan perlawanan terhadap majikan yang hendak merenggut Harga Dirinya (memperkosa). Setiap manusia mempunyai Harga Diri, apalagi tanah papua dan Orang Papua itu sendiri.

Pertanyaan dewasa ini, bila Harga Diri  sebagai Warga Negara tidak dijamin oleh Negara lalu siapa yang hendak menjamin…?

Untuk membangun papua, “Harga Diri  Orang Papua” yang terlebih dahulu harus di bangun. Terutama Harga Diri sebagai manusia, Bangsa Indonesia harus melihat Orang Papua sebagai subjek bukan objek dalam Pembangunan Bangsa dan Negara. Orang Papua siap menjalankan apa itu pengampunan sejati bagi para kolonialisme bejat karena Orang Papua tahu hanya dengan Saling memaafkan akan ada masa depan yang berarti, saling mengakui kesalahan, menghukum Pelaku pelanggaran HAM sesuai dengan perbuatannya merupakan langkah awal menumbuhkan Harga Diri Orang Papua.

Bangsa Indonesia yang besar dengan menganut Paham Demokrasi adalah Negara yang seharusnya mampu mengaktualisasikan nilai-nilai demokrasi itu sendiri.  Keadilan dan kemanusiaan modal utama dalam  pembangunan tanah dan Warga Negara Orang Papua.

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: