PROFIL KAMPUNG BENERAF

PROFIL KAMPUNG BENERAF

A. Sejarah berdirinya kampung beneraf

Penduduk yang kini hidup dan bermukim di kampung beneraf, konon adalah penduduk yang hidup dan bermukim di kampung “Edwas” yang artinya “kampung Tua/kampung besar”. Kampung edwas ini terletak di pedalaman pantai timur sarmi, yang letaknya ± 8,5 km dari kampung sekarang(kampung beneraf). Kolektif masyarakat yang hidup dan bermukim di kampung edwas ini berasal dari suku “MANIREM” Salah satu suku besar yang ada di wilayah Kabupaten SARMI. Saat itu (diperkiraan sekitar Tahun 1930-an) Kehidupan masyarakat yang hidup di kampung edwas ini masih Primitif.  hal ini dibuktikan dengan masih dianutnya pola bermatapencahariaan yang nomaden,  dan juga masih melakukan perang-perang suku antar penduduk perkampungan sekitarnya seperti Urunumguay, tra-tra, ibi, foja, dll.

Melihat persoalan diatas, akhirnya pada 1938 di era pemerintahan UNTEA Belanda, Bestir donkir  mencoba mengatasi pertikaian perang suku dengan merelokasikan penduduk dari kampung edwas ke pesisir pantai timur Sarmi.  Mereka diberikan tempat pemukiman yang merupakan hak ulayat tanah milik “suku takar”. Selain disebabkan oleh peristiwa yang sudah dijelaskan, penduduk yan bermukim di kampung beneraf tersebut juga dihadapi oleh gejolak social, politik dan alam yaitu : Perang dunia ke-2 (tahun ,1944-1948), banjir (tahun 1964-1870), dan pertikaian antara OPM & TNI (tahun 1984-1986).sehingga mengakibatkan mereka secara terpaksa harus mengungsi ke kampung lama (Edwas) hingga aman dari musibah baru kembali lagi. Setelah melewati beberapa rentetan peristiwa yang melanda penduduk kampung beneraf yang bermukim di kampung beneraf ini, akhirnya pada tahun 1991 kampung tersebut didefinifkan menjadi salah satu perkampungan yang berada di bawah wilayah administrasi pemerintahan kabupaten Jayapura. Dan pada tahun 2003 kampung tersebut masuk dalam wilayah administrasi pemerintahan kabupaten sarmi.

 B. Arti nama kampung

Bner-af,  adalah nama yang diberikan oleh salah seorang bestir di masa pemerintahan UNTEA Belanda  yaitu “ Bestir Donkir”.  Sedangkan nama lain yang juga sering disebut-sebut oleh masyarakat setempat adalah  “kampung Endar” yang artinya ‘kampung kecil lalu kemudian berubah lagi menjadi ”sowidin” yang artinya “bunyi banjir”. Nama kampung benr-af berasal dari 2 kata terjemahan bahasa asli suku manirem yang masing – masing adalah :

–        Bner       : yang artinya buah ketapang hutan, dan

–        Af           : yang artinya buah gayang pantai

Kedua nama ini kemudian digabungkan menjadi kata “Bner-af”. yang mana melambangkan “karakter orang beneraf yang keras” seperti nama 2 (dua) buah dimaksud diatas. Artinya karakter masyarakat yang suka berperang dan keras kepala.

 C.      Sejarah kontak dengan dunia luar

Berdasarkan data yang didapat dari hasil wawancara pada beberapa informan, salah satunya ialah kepala kampung, kampung beneraf semenjak 1909 s/d 1912 di datangi oleh para pencari/pemburu burung cenderawsih dari kepulauan ternate/tidore, dan dipertengahan era ini tepatnya pada tahun 1911 ottow dan geissler 2 orang penginjil eropa menyebarkan injil di wilayah ini. kemudian pada tahun 1912-1925 masuk lagi beberapa pengusaha geta damar dari jerman dan yang terakhir pada tahun 2003 masuk PT.SOMALINDO las STAR JAYA (perushaan kayu, Hal ini secara tidak lansung dapat di simpulkan bahwa di era itu masyarakat beneraf telah melakukan hubungan kontak dengan dunia luar dan secara tidak lansung mendapat pengaruh bagi pembangunan di kampung.

 D.      Sejarah peristiwa dan kejadian-kejadian penting di kampung beneraf

Berikut ini beberapa sejarah terjadinya peristiwa dan kejadian-kejadian penting di kampung beneraf.

1)    Pada tahun 1930         :  peristiwa boswesen

2)    Pada tahun 1944         :  kampung beneraf juga terkena serpihan perang dunia ke-II.

3)    Pada tahun 1964         :  peristiwa banjir besar yang melanda kampung beneraf

4)    Pada tahun 1984         : peristiwa Organisasi Papua Merdeka (OPM) masuk kampung dan terjadi baku tembak dengan pasukan ABRI di wilayah ini

5)    Pada tahun 1992         : kampung beneraf di definitifkan dengan nama kampung “YAMBEN” (gabungan dua kampung yamna dan beneraf.)

6)    Pada tahun 2001         : pemekaran kampung, kampung beneraf manjadi kampung sendiri

7)    Pada tahun 2003         : Pemekaran wilayah SARMI menjadi kabupaten sendiri, sehingga beneraf pun masuk dalam wilayah SARMI (dulunya di wilayah Jayapura)

 KEADAAN WILAYAH

 A.      Letak, Luas, Batas, dan jarak kampung dari pusat informasi

1)      Letak Kampung

Secara administratif Kampung beneraf merupakan salah satu kampung dari 5(lima) kampung yang terletak di wilayah Distrik Pantai Timur Kabupaten Sarmi. Ke-5 (lima) kampung itu ialah : Kampung Komra (Biri2), Kampung Ansudu, Kampung Betaf, Kampung Yamna/sunum, dan kampung Beneraf. Sedangkan secara geografis, kampung beneraf terletak 0-1100 m dari permukaan laut. Sehingga kampung beneraf masuk dalam kategori kampung pesisir pantai.

 2)      Luas Kampung

Luas kampung beneraf secara keseluruhan adalah ± 375 km². sedangkan panjang kampung mencapai ± 750 m². dan melebar dari pantai ke darat ± 500 m².

 3)      Batas kampung

Kampung beneraf secara administratif berbatasan dengan :

– Bagian timur berbatasan dengan kampung sunum

– Bagian barat berbatasan dengan kampung vinyabor/takar

– Bagian utara berbatasan dengan lautan pasifik

    – Bagian selatan berbatasan dengan daerah kabupaten tolikara

 4)      Jarak kampung dari pusat informasi

Jarak dari kampung beneraf ke pusat ibukota distrik (kampung betaf) adalah ± 12 km dan dari kampung beneraf ke pusat pusat kabupaten (SARMI) adalah ± 62 km.

 B.      Jumlah RW & RT

Semenjak masuk dalam wilayah teritorial pemerintahan Kabupaten Sarmi, Kampung beneraf terbagi atas 2 Rukun Warga (RW), dan 5 Rukun tetangga (RT).

 C.      Keadaan Cuaca Dan Iklim

Secara geografis kampung beneraf dan beberapa kampung lainnya yang berada di lokasi distrik pantai timur kabupaten sarmi terletak 0 – 1100 m di atas permukaan air laut, dengan rata –rata curah hujan sebesar – 132,25 mm/ tahun. Berdasarkan data iklim yang di peroleh dari stasiun meterologi jayapura selam lima tahun terakhir diketahui curah hujan rata – rata untuk kabupaten sarmi adalah 2570 mm/tahun ,dengan rata – rata hari hujan 205,6 hari/tahun, rata – rata suhu udara biasa berkisar 27,01 °C dan suhu udara biasa rata – rata maksimum 29,48 °C/tahun serta rata – rata kelembapan udara 88,55% /tahun. Iklim wilayah kabupaten sarmi menurut Schmidt dan ferguson (1951) diklasifikasikan kedalam iklim tipe A. yang memiliki cirri – ciri yaitu daerah beriklim sangat basah dan vegetasi hujan tropis. Curah hujan tahunan tercatat berkisar antara 2.5 – 3.5 m pertahun dengan rata – rata 2.8 m pertahun. Suhu udara rata – rata di wilwyah ini relative tinggi setiap bulannya yaitu 27,0 °C dengan kisaran 26.4 °C ( bulan agustus ) 27.6 °C ( bulan desember ), dengan suhu udara minimum berkisar 22.3 °C (bulan februari ) sampai ( bulan November dan desember ). Sementara jumlah hari hujan berkisar 14 hari ( bulan desember ) sampai 22 hari ( bulan juli ) dengan rata – rata hari hujan 17 hari dalam sebulan. Dalam setahun tercatat 203 hari hujan atau lebih dalam 6 bulan dalam setahun hari hujan. Nilai rata – rata kelembapan udara di kabupaten sarmi tercatat 86 %. Kelembapan udara terendah terjadi pada bulan oktober ( 82 % ),sedangkan tertinggi terjadi pada  bulan juni ( 88 % ) kecepatan angin berkisar antara 0,87 m/detik  pada bulan desember sampai 1,85 m/detik  ( badan meterologi dan geofisika stasiun jayapura, 2003).

 D.      Topografi

Hasil identifikasi tanah yang di ambil di salah satu titik dekat Sekolah Dasar YPK Beneraf yang berjarak kurang lebih 75 m dengan arah 20° utara, menunjukkan lapisan tanah di wilayah ini sebagai berikut :

1)      Lapisan 1 dengan kedalaman 0-15 cm bertekstur lempung berpasir dan dan berwarna hitam,konsistensi gempur dengan kandungan bahan organic sedang dan tingkat kemasaman tanah agak masam – netral  ( pH= 6,0 – 7,0 ).

2)      Lapisan 2 dengan kedalaman solum  15 – 25 cm, bertekstur pasir berlempung dan berwarna coklat gelap, konsistensi agak gempur – lepas tanpa stuktur dengan kandungan bahan organic rendah dan tingkat kemasaman tanah agak masam- netrral ( Ph= 6,5 –  7,0 )

3)      Lapisan 3 dengan kedalaman solum 25 – 60 cm, bertekstur pasir dan berwarna coklat keabuan, konsistensi lepas, tanpa stuktur dengan kandungan bahan organic sangat rendah, dan tingkat kemasaman tanah agak masam – netral ( ph= 6,0 – 7,0 ).   Jenis tanah ini di golongkan kedalam jenis tanah Regosol.Sifat ini sangat baik untuk tanah air dan udara bagi system perakaran berbagai jenis tanaman. Tanah pada lapisan 1 menggambarkan kondisi unsure hara sangat tinggi  di tandai oleh lapisan permukaan yangat gelap,namun dalam usaha harus di lakukan dengan hati- hati karena tanah yang subur hanya mencapai 15 cm, hal ini menunjukkan kemampuannya sangat terbatas untuk usaha tanaman  tahunan maupun tanaman setahunan dalam jangka waktu yang sangat lama.

Oleh karena itu untuk mempertahankan produksi yang optimal maka, diperlukan adanya perlakuan khusus seperti usaha pemberian bahan  organic ( sisa-sisa tanaman atau rumput yang telah melapuk atau kompos), di campur dengan tanah pada setiap lubang  tanam yang telah disiapkan di atas bedengan dengan maksud agar butir tanah dapat menyatuh membentuk bongkahan sehingga unsure hara dan air yang akan di berikan kepada tanaman melalui media tanah dapat diikat dan diambil oleh akar  tanaman bagi kelangsungan hidupnya.Kegiatan pengolahan dan pengemburan tanah tidak boleh terlalu intensif karena akan merusak stuktur tanah yang menjadikan kemampuan untuk mengikat unsure hara dan air menjadi rendah. Demikian pengolahan tanah hanya diperlukan pada waktu-waktu tertentu apabila tanaman menunjukan gejalah kelaianan pada pertumbuhannyaitu akibat dari gangguan sifat fisik tanah.

Hidrologi meliputi keadaan air yang terdapat di atas permukaan tanah maupun dalam tanah yang berpotensi dan berkwalitas untuk dapat di gunakan sebagai kelangsungan hidup mahkluk hidup baik untuk manusia dan tumbuh-tumbuhan. Beberapa sungai/kali yang terdapat di kampung Beneraf adalah : sungai/kali Otuar,Bintenkon, Kwantra, Sen, Nes, Tmon, Uraner, Meson, Ungku, dan Ewaden yang tidak pernah kering sepanjang tahun walaupun musim kemarau           

E.       Flora dan Fauna spesifik

Beberapa flora dan fauna spesifik di kampung Beneraf yang juga merupakan sumber kebutuhan adalah :

1)         Flora :

Meliputi jenis tumbuhan yang ada meliputi tumbuhan yang dipelihara (budidaya) seperti: Kelapa, Mangga, Kakao, Pisang, Kendondong, Pinang, Nanggka, Pepaya, Jambu biji, Jambu bol, Ubi kayu, dan Ubi jalar serta beberapa jenis sayur-sayuran seperti : Bayam , Kangkung ,Kacang panjang ,Terong dan Pare serta di pekarangan Jahe dan sereh. Sedangkan tumbuhan liar ( non budidaya ) terdiri  dari Ketapang, dan Waru jenis merayap di bagian pantai yaitu katang-katang ( pescaprae ) dan Rumput Teki, dll.

2)         Fauna :

 Beberapa jenis fauna yang di jumpai adalah seperti : kangguru (lao-lao), Ayam ,Bebek,Kambing, Babi, ( kar ), Kasuari, ( Kuou ) Buaya, (sorom )Kuskus, ( merau ) Biawak, ( bibe ) dan berbagai jenis burung  Kakatua, ( ozon,kwaiba, kuere ) Nuri, ( biero ) Cenderawasih, ( nabuake ) dan Mambruk ( meres ) sedangkan jenis ikan di laut yang biasanya ditemukan nelayan adalah Ikan Bobara, Tengiri, Lasi putih, Daun tebuh,dan Udang serta beberapa jenis ikan lainnya.

 KEPENDUDUKKAN

 A.      Jumlah Penduduk Dan Keluarga

Berdasarkan data yang di dapat dari LAPORAN PENDUDUK KAMPUNG BENERAF bulan Februari – Maret 2010 dari kepala kampung,

No. Jenis kelamin Jumlah
1. Laki-laki 358 Jiwa
2. Perempuan 347 Jiwa
Total : 705 Ji

Tabel 1. Data penduduk berdasarkan jenis kelamin, Bulan Maret 2010

  • Jumlah kepala keluarga : 170 KK

 B.      Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian

No. Jenis mata pencahariaan Jumlah
1. TNI / POLRI 1 Orang
2. PNS 1 Orang
3. Pengusaha/pedagang 5 Orang
4. Kontraktor 4 Orang
5. Tukang kayu 2 Orang
6. Sopir 3 Orang
7. Motoris perahu jonhson 4 Orang
8. Ojek
9. Nelayan
10. Tukang batu
11. Petani 172 oran

Tabel 2. Data penduduk berdasarkan mata pencahariaan Maret 2010

 C.      Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama

No. Nama Agama Jumlah
1. Islam 20 Orang
2. Kristen protestan 685 Orang
3. Kristen katolik
4. Hindu
5. Budha
Total : 705 Oran

Tabel 3. Data penduduk berdasarkan agama


KEADAAN SOSIAL EKONOMI

 A.      Sistem  Pemerintahan

1)      Pemerintahan kampung & Kelembagaan kampung

Sesuai dengan penjelasan diatas, kampung beneraf secara resmi menjadi kampung definitive di bawah wilayah territorial kabupaten sarmi pada tahun 1990. Semenjak itu kampung beneraf masih merupakan gabungan 2 kampung  namanya “Yanbe” kepanjangannya “Yamna beneraf”. Kampung ini kemudian mekar menjadi kampung sendiri yaitu kampung beneraf hingga sekarang. Sistem pemerintahan kampung beneraf secara politis merupakan jelmaan dari kepemimpinan adat yang secara universal juga terjadi dibeberapa kampung lainnya di Papua secara khusus di kabupaten Sarmi.

Hal diatas dapat dilihat dari system pemilihan kepala kampung yang masih menggunakan beberapa Kriteria-kriteria yang terdapat di sitem pemilihan “pimpinan adat/ondoafi” satu diantaranya adalah “Setiap kader yang naik harus berasal dari klen/marga asli pemilik hak atas tanah ulayat”.

  Tidak hanya itu, beberapa contoh lainnya  juga dapat dilihat dari pengaruh kepemimpinan terhadap aparatur dan juga respons masyarakat terhadap kepala kampung yang sangat persuasif dan responsive dalam proses penerimaan kebijakkan namun dalam situasi yang salah masyarakat malah dapat berubah sebaliknya. Contoh lainnya yang dapat terlihat ialah jarak waktu kepemimpinan untuk menyiapkan kader pemimpin berikutnya yang membutuhkan waktu cukup lama disebabkan karena harus berdasarkan pada kriteria dan juga proses kesiapan kader yang akan memimpin.

Secara structural kepala kampung dibantu oleh beberapa KAUR (kepala Urusan), dan juga BAPPERKAM/BAMUSKAM sebagai lembaga pemerintahan kampung yang memainkan peran “semi legislative” yang bertugas menyelenggarakan musyawarah-musyawarah dan juga mengesahkan beberapa ketetapan-ketetapan sebagai aturan dalam kampung.

Kelembagaan lainnya yang juga membantu kepala desa dalam mengorganisir masyarakat kampung adalah : PKK, BABINSA, KARANG TARUNA, dan LINMAS

2)      Pemerintahan adat dan pengaruhnya dalam pemerintahan

System pemerintahan adat di kampung beneraf ini adalah system pemerintahan “Ondoafi”, salah satu tipe kepemimpinan tradisional  yang ada di Papua yang menunjukkan status kepemimpinan berdasarkan kategori wilayah (daratan, perairan, hutan, lembah, danau dan sebagainya). Khusus di beneraf ada 2 (dua) ondoafi yang memerintah dikampung ini, yaitu ondoafi di wilayah hutan dan ondoafi di wilayah pesisir.

Pengaruh kepemimpinan adat di kampung ini memainkan peran yang cukup penting dalam mengatur beberapa aktifitas masyarakat. Sebagai contoh misalnya : adat perkawinan, adat buka lahan dsb.

 3)      Pengaruh tokoh agama dalam pemerintahan kampung

Pengaruh tokoh agama dalam menata aktifitas masyarakat di kampung ini cukup besar, hal ini dapat di lihat pada saat-saat tertentu dimana, ketika ada pertemuan-pertemuan penting tingkat kampung tokoh agama juga di undang untuk turut berperan serta dalam pertemuan tersebut guna menyampaikan usul dan saran pada masalah yang dibahas.

 B.      Sistem mata pencahariaan

Kampung beneraf merupakan kawasan yang sangat potensial Sumber Daya Alamnya. Keadaan Topografi dan kondisi ekologi di wilayah ini menghasilkan jenis-jenis flora & fauna yang bervariasi. Hal inilah yang menyebabkan orientasi mata pencahariaan penduduk lebih dominan ke berkebun/berladang, berburu, dan melaut, dibandingkan dengan membuka usaha, buruh dsb.

 1)       Bekebun/berladang

Wilayah beneraf semenjak tahun 1993 telah dijadikan sebagai lahan perkebunan kakao oleh pemerintah kabupaten Jayapura seluas : 25 H,  kemudian pada tahun 2006 melalui Program “tiada hari tanpa menanam kakao” oleh Bupati Sarmi kawasan perkebunan kakao di tambah lagi seluas: 20 Ha melalui DAU Kab.Sarmi sehingga akhirnya menjadi : 45 Ha. semenjak kawasan ini dijadikan kawasan perkebunan kakao aktifitas mata pencarian masyarakat yang dulunya berburu dan meramu  berubah menjadi petani kakao. Hingga sekarang petani kakao jumlahnya mencapai ± 80 KK, sehingga kalau di representatifkan aktifitas perkebunan kakao merupakan aktifitas yang paling dominan di lakukan oleh sebagian besar penduduk kampung beneraf dalam rangka bermata pencahariaan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Di sisi lain, selain menjadi petani kakao, sebagian besar masyarakat di kampung beneraf ini juga membuka lahan perkebunan keluarga yang letaknya di pekarangan rumah mereka masing-masing. Jenis tanaman yang ditanam ialah : Ubi jalar, ubi kayu, kacang tanah, terong, cabe/rica, tomat, pisang, kankung, bayam, pare, pinang, pepaya, tembakau, kelapa, sukun dll.

 2)      Berburu

Berburu merupakan aktifitas bermatapencahariaan yang bersifat “sampingan” selain bertani/berkebun namun  dominan sering juga dilakukan oleh orang beneraf, alat-alat yang digunakan untuk berburu yang sering dipakai ialah Panah/jubi. Hewan buruan yang sering di dapat dan di konsumsi olehorang beneraf ialah babi hutan dan kangguru/lao-lao, sedangkan binatang buruan lainnya yang kadang di dapat ialah buaya, burung, kasuari, kus-kus dll. Aktifitas berburu ini konon sebelum masuknya perusahan kayu SOMALINDO yang merusak potesi hutan beneraf, binatang buruan sering dan mudah di buru di jarak yang dekat dari lokasi pemukiman, namun dewasa ini masyarakat sudah tidak mudah lagi untuk mendapatkan binatang buruan disebabkan karena pengaruhnya rusaknya hutan mereka terpaksa harus mencari ke tempat yang agak jauh dari lokasi pemukiman dan berhari-berhari di hutan.

 3)      Melaut serta menangkap ikan dan udang

 Sebagaimana telah di jelaskan di atas bahwa orang beneraf berasal dari suku “manirem” yang sebenarnya tinggal dan bermukim di daerah pedalaman SARMI. mata pencahariaan mereka masih bersifat nomaden berburu dan berkebun berpindah-pindah, maka untuk melakukan aktifitas bermata pencahariaan melaut, ini hanya merupakan mata pencahariaan “sampingan” yang jarang dilakukan disebabkan karena kurang terbiasa dan kurang memiliki pengetahuan tentang aktifitas “melaut” yang mendalam sedangkan laut benraf memiliki potensi hasil laut yang cukup baik. Hanya beberapa anggota masyarakat saja yang sering melaut. Berbeda dengan aktifitas “menangkap ikan/ udang di kali/sungai”, aktifitas ini sering dilakukan oleh sebagian besar penduduk kampung beneraf, alat yang digunakan untuk menangkap ikan dan udang di kali ini ialah panah/jubi, serok-serok, kalaway, tombak dan pancing.

KEADAAN SOCIAL BUDAYA

1. ORSOS DAN KEKERABATAN ORANG BENERAF

Orang beneraf berasal dari suku MANIREM yang didalamnya terdapar  6 (enam) sub-sub suku yaitu :

1)      DINSREF

2)      MERONTOUW

3)      KARANTOUW

4)      REIUTAN

5)      ENFOTOUW

6)      EDWASTOUW

  1. KEPEMIMPINAN TRADISIONAL

Sistem kepemimpinan tradisional di wilayah ini masih menganut system kepemimpinan tradisional “Ondoafi”. Kepemimpinan ondoafi di wilayah terbagi atas 2 (dua) wilayah kepemimpinan yaitu Ondoafi wilayah pantai, dan ondoafi wilayah hutan/pegunungan.

  1. HAK ULAYAT KEPEMILIKAN TANAH

Hak ulayat atau kepemilikan tanah di kampung beneraf terjadi secara komunal atau berdasarkan kekuasaan wilayah. Suku-suku yang memiliki hak ulayat atas tanah di beneraf adalah

1)         BINTEMWAI

2)         MAMBEN

3)         MUESMAN

4)         MINAWA

5)         OISBA

6)         SFASIDUAS

7)         ORTI

8)         RERAK

9)         DANYAU

  1.  KEPERCAYAAN TRADISIONAL

Masyarakat asli beneraf, pada umumnya masih menganut kepercayaan-kepercayaan tradisional, kepercayaan akan roh-roh halus, dan juga dewa-dewa laut dsb, yang di pandang memiliki kekuatan magic. Hal ini dibuktikan dengan masih diselenggarakannya upacara-upacara adat yang berhubungan dengan pemgusiran roh-roh halus, suanggi dll.

SARANA & PRASARANA KAMPUNG

 

A.      SARANA DAN PRASARANA PENDDIDIKAN

Di kampung beneraf terdapat dua unit sarana pendidikan yaitu SD YPK ORA ET LABORA BENERAF dan SEKOLAH KAMPUNG ANAK USIA DINI “MAJU BERSAMA” KAMPUNG BENERAF. Tenaga pengajar yang bertugas di tempat ini sangat minim, berdasarkan data yang saya dapat dari hasil wawancara dengan kepala kampung tenaga mengajar yang mengajar di SD hanya 2 orang guru honor, sedangkan yang mengajar di PAUD hanya 3 orang tenaga pengajar, sementara minat dan partisipasi anak dalam menuntut ilmu sangat tinggi.

 B.      SARANA DAN PRASARANA BIDANG KESEHATAN

Guna menerima pelayanan medis, dikampung beneraf tedapat 1 unit PUSTU (puskesmas pembantu) dan juga 4 orang kader posyandu, namun pada beberapa 5 bulan belakangan ini (terhitung mei 2010) pelayanan medis melalui sarana dan prasarana ini sudah jarang di buka sehingga masyarakat terpaksa harus ke PUSKESMAS BETAF untuk menerima pelayanan medis

 C.      SARANA DAN PRASARANA BIDANG KEAGAMAAN

Karena mayoritas penduduk yang bermukim di beneraf beragama Kristen, maka sarana ibadahnya yang terdapat di kampung ini hanyalah gereja, ada 2 unit gereja yang ada di kampung ini yaitu : GKI ORA ET LABORA dan GEREJA KINGMI, dengan masing-masing 1 pelayan jemaat (pendeta).

 D.      SARANA DAN PRASARANA EKONOMI

Aktifitas  perekonomian di kampung beneraf di tunjang dengan sarana I Pasar, 5 kios, 1 warung makan dan 3 pedagang local yang hanya bertempat dirumah.

 E.       SARANA TRANSPORTASI

Guna keperluan akssebilitas maka sarana penunjang transportasi yang digunakan ialah alat angkutan “TAXI”. Dengan penjelasan sebagai berikut :

–          Terminal penumpang bertempat di BIRI

–          Untuk akses Beneraf-Sarmi (P.P) alat angkut yang digunakan ialah taxi starwagon, minibus. Dan kijang, dengan tarif ± 30.000/orang

–          Untuk akses jayapura-beneraf alat angkut yang digunaka ialah taxi dengan merk mobil, avanza, inova, kijang capsule dll dengan tariff 150/orang

 F.       SARANA AIR BERSIH

Sarana dan prasarana penunjang air bersih di kampung beneraf ialah : sumur keluarga. Dan sarana penunjang air bersih lainnya ialah : KALI/SUNGAI. Masyarakat di kampung beneraf lebih dominan menggunakan air kali/sungai untuk mandi dan mencuci dibandingkan dengan air sumur, hal ini disebabkan kerena kebiasaan turun temurun sehingga untuk merubah perilaku masyarakat di kampung beneraf perlu waktu yang cukup lama.

 G.     SARANA PARAWISATA

Selain beberapa sarana-dan prasarana umum yang telah dijelaskan diatas, kampung beneraf juga memiliki potensi alam yang sangat menarik dan cocok untuk di jadikan potensi pariwisata. Lokasi pariwisata yang memiliki pemandangan cukup indah ini terletak di pesisir pantai kampung beneraf memanjang sampai ke muara kali uraner beneraf. Potensi pariwisata ini kini telah di bangun 1 unit rumah parawisata bagi para pengunjung yang ingin menikmati keindahan pesisir pantai beneraf.

KEADAAN PEMBANGUNAN MASYARAKAT DI KAMPUNG

  1. SUMBER POTENSI DAN PELUANG PEMBANGUNAN

Berdasarkan data yang didapat dari hasil pegamatan dan wawancara dengan beberapa anggota masyarakat dan aparat kampung, kampung beneraf memiliki Sumber daya Alam yang sangat potensial sebagai penunjang pembangunan. Potensi sumber daya alam ini mencakup potensi perkebunan dan pariwisata pesisir pantai, hal ini di buktikan dengan terdapatnya kawasan perkebunan kakao dan kelapa dan juga hasil kebun pekarangan rumah tangga yang memiliki hasil yang cukup baik dan banyak sementara di sisi pariwisata panorama pesisir pantai dan lautnya sungguh mempesona. Di lain sisi 2 tahun belakangan ini di temukan sumber daya hasil alam berupa tambang nikel, emas dan minyak di kampung ini oleh beberapa ahli tambang dari kanada.

Hal diatas sebenarnya merupakan peluang ekonomi bagi masyarakat yang dapat di kembangkan guna memenuhi kebutuhan hidup masyarakat dan juga dapat memberikan inkam bagi pemerintahan kampung.

UPAYA DAN PERMASALAHAN PEMBANGUNAN

  2.  Upaya pembangunan di kampung beneraf di lakukan semenjak terjadinya pemekaran wilayah  SARMI berdiri menjadi kabupaten sendiri yaitu kabupaten SARMI. Semnjak ini karateker Bupati SARMI Bpk. E. Fonataba dalam rangka mengejar ketertinggalan pembangunan dengan kampung lainnya di Papua melakukan beberapa program untuk pembangunan masyarakat. Program-program itu antara lain Program “tiada hari tanpa menanam coklat”, Program perumahan masyarakat, dan masih banyak lagi program lainnya yang dilakukan sebagai upaya mengejar ketertinggalan pembangunan di kampung terutama di era OTSUS.

                Dari  beberapa upaya pembangunan ini, yang menjadi masalah ialah ada beberapa program yang tidak terlaksana dengan baik dan juga tidak dimamfaatkan dengan baik oleh masyarakat. Sebagai contohnya misalnya pembangunan perumahan penduduk. PEMDA KAB.SARMI pada tahun 2008 menyelenggarakan program perumahan sebanyak 60 unit rumah bagi masyarakat dengan tipe 36  (6 x 6 dan 6 x 9). Perumahan ini dibangun ± 4 KM dari kampung induk. Dampak yang terjadi sesudah perumahan ini dibangun ialah ; terjadinya pemekaran wilayah pemukiman dan aktifitas, namun yang lebih parah lagi masyarakat tidak serius menempati rumah-rumah tersebut. Kemudian contoh kedua ialah program tiada hari tanpa menanam kakao oleh PEMDA SARMI. Program ini di lakukan pada tahun 2006 dengan membuka lahan perkebunan masyarakat seluas 20 Ha. namun dalam penyelenggraannya masyarakat mengalami kendala pada pemasaran hasil produksinya sehingga mengakibatkan ada beberapa anggota masyarakat yang kurang tertarik untuk melanjutkan kegiatan penanaman kakao ini.

KESIMPULAN DAN SARAN

Sebagai kesimpulan di akhir tulisan ini, ada beberapa pelajaran berharga yang saya temui di kampung beneraf yaitu  pada umumnya masyarakat beneraf sangat membuka diri kepada program-program yang bertujuan untuk pembangunan masyarakat sehingga dapat memudahkan para pihak yang ingin melakukan pembangunan di wilayah ini untuk menyelenggrakan program sehingga sebagai saran saya berharap kiranya dengan adanya PROFIL KAMPUNG ini dapat menjadi panduan bagi penyelenggraan pembangunan di kampang beneraf distrik pantai timur kabupaten sarmi.

Akhirnya, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dan mereponi penyusunan profil ini kiranya profil ini dapat menjadi suatu hal yang berharga dalam pelaksanaan pembangunan di kampung beneraf. “SELAMAT BERKARYA.

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: