PROFIL KAMPUNG ANSUDU

PROFIL KAMPUNG ANSUDU

 A.      Sejarah Kampung Ansudu

 Awal kehidupan masyarakat Sarmi  sebelum adanya Penginjil dan Pemerintah pada waktu itu hidup mereka dengan kondisi tradisional, masih percaya kepada animisme,  hidup berpindah tempat dan dikenal kanibalis, hampir sama dengan sebagian suku-suku yang lain di  Tanah Papua. Pada cerita asal-usul masyarakat Kampung ansudu, nama kampung pada awal itu adalah kampung wansu atau kwinsu yang artinya “hidup dalam kegelapan”. Ada tiga suku besar yang mendiami  kampung ansudu masing-masing, pertama Suku besar Ojomur/Sniwinik, kedua Suku Botboren, dan  ketiga Suku Sjaf bur-bar, mereka memakai nama tempat sebagai marga.

Masyarakat ansudu di kenal pandai berperang,  ini terbukti pada perang moyang dengan suku Viya dalam merebut tanah adat dan seorang putri, panglima Suku Besar Sniwinik menang dalam pertempuran berhasil membawakan putri kembali dan merebut tanah adat yang berkisar dari sungai Biri kearah timur sampai di kali Fwara, batas dengan masyarakat Taronta dan ke selatan berbatasan dengan suku Viya, disitulah mereka tetapkan batas alam antara Taronta dan Viya, Karena ketangkasan dalam berperang masyarakat ansudu di kagumi oleh suku-suku tetangganya, dan inggah sekarang masyarakat urban lokal yang menempati Kampung Komra dan di pinggiran Sungai Biri sangat menghargai dengan tidak merusak dan mengolah lahan yang ada dengan sembarangan. Seperti tempat keramat milik moyang kampung ansudu di pinggiran Sungai Biri yang disebut Bumurta oleh warga, hutan, berkebun, aktivitas mencari dan lain sebagainya di kampung komra.

Masyarakat pada kampung ansudu  merasakan dampak perang dunia ke II dan atau juga perang pasifik (pacific war), pada saat terjadinya pertempuran antara Sekutu Amerika dan Tentara Jepang  masyarakat ansudu pada lari ke hutan untuk bersembunyi menyelamatkan Anggota Suku, mereka bisa keluar dari hutan untuk kembali ke kediaman dan melakukan aktivitas,  bila adanya surat edaran atau pemberitahuan dari Pemerintah Belanda bahwa perang telah usai untuk sementara, di perkampungan warga sering menemukan  peninggalan sejarah berupa, Peluru, Bom yang masih aktif dan non aktif dengan  berbagai jenis.  Pada saat berakhir kedudukan koloniel di New Guinea (pulau papua) warga papua khususnya masyarakat sarmi (ansudu) pada saat itu dengan motivasi dan situasi politik yang tidak menentu membuat masyarakat di bawah dan atau terbawah oleh  warga belanda dengan  KM. Dorman ke Negri Belanda.

Setelah Sarmi dimekarkan menjadi kabupaten perumahan masyarakat ansudu masih terletak di kampung tua (wansu) di pinggiran bibir pantai Wirburter yang berhadapan langsung dengan lautan pasifik, pada perkampungan tua (wansu) kehidupan warga  tidak selalu nyaman, hal-hal yang tidak di inginkan warga seperti gelombang laut yang tinggi hingga terjadinya abrasi pantai, keadaan ini sering di alami warga, puncak kejadian Gelombang Tsunami yang menghantam perkampungan tua (wansu) dan perkampungan lainnya tepatnya pada sore hari ( 15 :00 wit) 11 November 2008 kejadian ini membuat warga ansudu harus mengungsi ke  bangunan Sekolah Dasar (SD) YPK tiga atap,  walaupun tidak memakan korban jiwa namun membuat warga trauma, pada sore itu juga Bupati dan jajarannya mengunjungi setiap korban bencana alam pada perkampungan yang berada di sepanjang pesisir pantai.

Keadaan trauma ini memaksakan kebijakan bupati untuk memindakan para korban bencana alam (warga ansudu) ke perumahan rakyat yang masih dalam proses pembangunan. Warga pada kampung ini mendapatkan 60 unit rumah dan di tempatkan di setiap rumah yang telah di bangun pada  jalan utama kabupaten dan jalan masuk ke kampung tua (wansu) dilihat dari jumlah penduduk yang padat dan jarak antara jalan kabupaten ke kampung tua (wansu) berjarak + 5 Km, ini membuat orang tua-tua yang ada, membawakan aspirasi ke para pembuat kebijakan  untuk memekarkan kampung ansudu menjadi dua kampung yaitu kampung ansudu I atau kampung induk yang terletak di sepanjang  jalan ke kampung tua (wansu) dan kampung ansudu II atau kampung pemekaran yang terletak di sepanjang jalan kabupaten, dari terminal biri  hingga dengan kampung betaf II.

B.      Letak dan Kondisi Geografis

 Letak kampung ansudu I terletak di distrik pantai timur Kabupaten Sarmi. Jarak antara kampung ansudu I dengan jalan kabupaten jayapura – sarmi berjarak + 4 km dan dengan distrik pantai timur +25 Km.  Secara adminitratif kampung Ansudu I berbatasan dengan:

Sebelah Barat                     : Ibukota Distrik/kampung Betaf II.

Sebelah Utara                    : Samudra Pasifik.

 Sebelah Timur                  : Sungai Biri.

 Sebelah Selatan                 : Kampung Ansudu II/Srem.

Luas kampung Ansudu I 200 km2, Kampung Ansudu I hampir sama hal dengan kondisi geografis yang berada di kampung tetangga, kampung ansudu I merupakan beriklim tropis, dataran rendah, bagian timur dan bagian barat di dominasi oleh hutan tropik, sebagian wilayahnya merupakan perkebunan Kakao dan Kelapa, lahan kintal rumah warga juga dimanfaatkan menanam sayuran, ubi-ubian,  pisang, tebuh dan lain sebagainya. Kampung ini didomonasi oleh hujan tropik ini berada pada dataran- dataran rendah yang diselilingi oleh rawa yang di genangi sungai-sungai kecil melewati daerah tersebut, musim hujan berkisar antara bulan oktober, November dan desember, musim laut teduh antara bulan januari inggah bulan mei.

 C.  Penduduk

 Jumlah penduduk pada Kampung Ansudu I 167 jiwa terdiri atas 30 kepala keluarga. Dari total penduduk diketahui bahwa jumlah penduduk laki-laki 94 jiwa dan jumlah penduduk perempuan 73 jiwa.

D. Pendidikan

Di kampung Ansudu I terdapat sebuah sekolah dasar yaitu SD YPK Ansudu dengan alaman bermain yang luas, terdapat juga 3 ruangan lama, 3 ruangan baru di bangun, 1 rumah kepala sekolah, dan belum adanya kantor para guru, jumlah murid pada SD YPK Ansudu  berjumlah 47 siswa yang masih aktif pada tahun ajaran 2009-2010, Proses belajar-mengajar di dalam ruangan masih memakai 3 ruangan lama dengan pembagian kelas, kelas I dan II satu ruangan, kelas III dan IV satu ruangan, dan kelas V dan VI satu ruangan dengan batas antar kelas masing-masing ruangan 2 barisan kursi ke belakang. Menurut salah seorang guru honorer bahwa Pada tahun ajaran baru 3 ruangan akan difungsikan, Para murid bukan berasal saja dari Kampung Ansudu I tetapi ada juga dari kampung tetangga seperti kampung Ansudu II/Srem, jarak kampung tetangga kurang lebih +2 km ke sekolah.

Pada SD YPK Ansudu terdapat 5 tenaga pengajar terdiri dari guru PNS 2 orang, guru Honorer 3 orang dan penjaga sekolah/mandor 1 orang, sumber-sumber yang dapat dipercaya selama ini SD YPK Ansudu  mengalami banyak permasalahan internal dan eksternal  sehingga proses belajar-mengajar  terhambat, dimana para guru PNS tidak menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pengajar yang benar, tidak menetap di tempat tugas, kepala sekolah tidak transparan dalam penggunaan danah-danah bantuan yang ada, intinya bahwa  tidak adanya kebersamaan yang cocok dalam mengembangkan mutu pendidikan.

Juga yang menjadi kendala pendidikan di kampung ini, para orang tua kurang memahami bahwa pentingnya pendidikan, dimana fungsi orang tua sebagai motivator kurang berperan penting, ini terbukti dengan hasil temuan wawancara dengan sebagian murid yang tidak masuk sekolah,”mengapa adik dong tidak masuk sekolah”? “Kita punya pakaian kotor jadi tra masuk sekolah,” orang tua harus menyediakan perlengkapan sekolah, menyediakan sarapan pagi dan memastikan bahwa anaknya benar-benar ke sekolah.

 Dalam menjalankan proses mengajar di sekolah peran guru honorer lebih menonjol, mereka mengajar seadanya dengan buku-buku kurikulum 1994, banyak sekali keterbatasan namun mereka telah memberikan nafas yang sangat berarti. Walaupun proses belajar mengajar terlampau tertinggal, ini tidak menyulitkan para Guru Honorer yang notabene adalah orang asli setempat yang berfikir bahwa pendidikan itu penting, salah seorang guru honorer yang mengabdi mengajar adalah ibu Everdina Wouw, alamat rumahnya berada di kampung Ansudu II/ Srem namun kegigihan terhadap pendidikan selalu ada, ia relah setiap pagi membawah para murid yang berada di kampung tersebut, bersama-sama berangkat ke sekolah, keadaan cuaca sering tak bersahabat, panas, hujan dan sering harus menempuh ke sekolah dengan  berjalan kaki, semua itu ia lakukan dengan tujuan murid-muridnya harus menimbah ilmu demi bekal masa depan mereka yang lebih baik dari generasi sekarang yang ada.

Berikut adalah tabel sekolah dan jumlah murid:

Sekolah

Jumlah Murid

Jumlah Guru

Laki-laki Perempuan
SD YPK Ansudu 27 siswa 20 siswi 5 Guru

Data: pengamatan dan guru honorer.

E. Kesehatan

Di kampung Ansudu I  terdapat kader kesehatan seperti kader  Posko Obat Kampung (POK), kader Posyandu, kader pertolongan Ibu Melahirkan, namun kader –kader ini sudah 1 tahun tidak berjalan. Berdasarkan informasi dari tenaga medis kepala puskesmas Betaaf yang baru  dr. Alberth Tokoro, diketahui bahwa jenis penyakit yang di derita warga adalah sering mengalami low back paint (LBP) karena aktivitas mengangkat barang berat sehingga tulang belakang sakit, muntaber, TBC/ paru-paru, inpeksi saluran pernafasan atas ( ISPA).

Berdasarkan sumber-sumber data dari masyarakat di ketahui bahwa warga juga sering mengalami penyakit Malaria, Kurang Darah (anemia), batuk beringus, penyakit kulit, menurut kepala puskesmas betaaf pada anggaran tahun 2011, akan diresmikan Pustu  di Kampung Ansudu II yang terletak berhadapan dengan mata jalan Kampung Ansudu I, bangunan pustu yang sangat strategis  ini di lengkapi dengan kamar tidur bagi perawat, ruang pelayanan, ruang penyimpanan obat-obatan, kamar mandi dan dapur, pelayanan Pustu tersebut  akan melayani masyarakat di 3 kampung yaitu kampung komra/biri, Ansudu I, Ansudu II/Srem, akan di tempatkan tenaga perawat  2 orang dan  sedangkan pelayanan dokter sendiri dalam  seminggu 2 kali akan mengunjui pustu tersebut.

F. Sosial Budaya dan Ekonomi

Sistem sosial budaya yang dikenal di kampung Ansudu I dimana terdapat sistem stratifikasi sosial dengan pembagian kelompok masyarakat yang memiliki sejumlah areal tanah ulayat yang besar disebut kepala suku serta kelompok masyarakat adalah kelompok yang tidak memiliki tanah ulayat.

Sistem kekerabatan dalam masyarakat kampung Ansudu I di kenal dengan garis keturunan bersifat patrineal yaitu garis keturunan mengikuti garis keturunan ayah. Dengan demikian anak laki didalam keluarga mempunyai peluang yang lebih besar untuk mewarisi kekayaan keluarga yaitu tanah atau pun melanjutkan keturunan oleh ayahnya. Pada umumnya marga-marga yang mendiami kampung ansudu I yaitu sniwinik, yankesman tananar, waren, tibut, virtar dan lain-lain.

Pengelompokan marga-marga menurut kampung-kampung yang ada di Distrik Pantai Timur di karenakan oleh adanya sub-sub etnit masyarakat di Distrik Pantai Timur yang telah ada sejak dulu.

Adapun sarana yang telah di bangun oleh pemerintah yaitu sarana Ibadah 1 gedung gereja, masyarakat di kampung Ansudu I mayoritas memeluk agama kristen Protestan, Sarana air berupah Sumur Bor/ memakai gorong-gorong dan juga pada kampung ini telah di sediakan sarana transportasi berupah 1 unit Truk. Prasarana ekonomi berupah kios di kampung Ansudu I sudah ada, warga biasanya menjual kebutuhan seperti rokok, gula, susu, mie instan, makanan kaleng, BBM berupah bensin, solar dan lain-lain. Masyarakat di kampung Ansudu I sama dengan kampung-kampung yang lain seperti Komra dan Ansudu II dimana masyarakat belum semua memahami tentang nilai uang sehingga hasil usaha pertanian, pencarian/berburuh yang diperoleh lebih banyak digunakan untuk komsumsi keluarga.

Aktivitas usaha seperti tanaman kakao hanya sebagian warga yang menekuni, masyarakat sering menjual kepada para tengkulak dengan nilai yang tidak menentu kadang naik turun harga jualnya kadang Rp.6.000/kg, Rp.7. 000/kg inggah Rp.10. 000/kg, juga sesama warga masih ada system barter yang dilakukan karena nilai kekeluargaan tinggi saling melengkapi dengan menukar barang itu masih ada. Kebutuhan yang dilihat cukup menonjol di kampung Ansudu I yang berkaitan dengan pengeluaraan ekonomi tinggi yaitu tingkat kebutuhan BBM berupah bensin, Pinang, rokok buah seperti rokok surya besar, rokok anggur kupu dan lain-lain.

A. ANALISIS MASALAH/SOSIAL DAN POTENSI PEMBANGUNAN KAMPUNG

 1.      Hasil Analisis Sosial

Pemukiman perumahan masyarakat ansudu I sama dengan masyarakat pada kampung lainnya merupakan rumah sederhana bantuan dari pemerintah kabupaten, rumah sederhana ini di lengkapi dengan 2 kamar tidur, ruang tamu, kamar mandi, sumur galeh memakai gorong-gorong, dan di lengkapi dengan mesin penerang tenagah matahari berupah solarsel.

Pada masyarakat kampung Ansudu I Seorang kepala keluarga bertanggung jawab mencari nafkah sehari-hari, aktifitas yang di lakukan bagi seorang kepala keluarga mayoritas adalah bertani, aktifitas bertani dilakukan antara jam 09:00 -10:00 wit hingga siang hari antara jam 12: 00 – 02:00 wit, lahan tani yang di garap warga biasanya di lakukan di samping pekarangan rumah, aktifitas ibu rumah tanggah setiap pagi inggah malam;

  1. Memasak air dan membuat sarapan pagi.
  2. Menyediakan makanan siang dan malam.

Juga aktifitas lainnya seperti;

  1. Membersikan rumah.
  2. Alaman rumah, sering
  3. Memberisikan lahan kebun, kintal rumah.
  4. Dan juga mencari kelapa tua di pantai.

Tanaman kakao yang menjadi primadona dari program  kepala daerah sangat di sambut positif oleh warga, masyarakat giat menanam tananaman tersebut, tanaman kakao yang di tanam warga jauh dari pemukiman, terletak di pinggiran sungai biri dan lain tempat yang jaraknya jauh pula, ini menyebabkan warga jarang pergi untuk membersihkan kebut kakao tersebut. Aktifitas mengelolah minyak kelapa sering di lakukan oleh warga aktifitas ini tidak semua warga kampung menekuninya, hasil minyak kelapa sering di gunakan sebagai minyak goreng di dapur untuk memasak, inggah sekarang belum ada keinginan warga untuk memproduksi dalam jumlah yang banyak, aktifitas menokok sagu biasa dilakukan oleh orang dewasa, hasil yang biasa di peroleh paling banyak sampai 3 tumang (1 tumang/1karung terigo), biasa hasil tersebut dibagi-bagikan kepada tetangga, aktifitas sampingan seperti  mencari di laut, sungai atau di hutan/berburuh dan membuat perangkap, biasa di lakukan oleh orang tua dan pemuda, kebiasaan turun-temurun bila hendak mencari/berburuh atau membuat perangkap biasanya yang di lakukan adalah ;

  1. Warga berkumpul membicarakan di mana tempat yang menjadi tujuan, kapan waktu yang tepat.
  2. Melengkapi peralatan yang harus di bawah.
  3. Sebelum jalan diawali dengan doa.

Aktifitas ini dilakukan pada saat akan diadakan pesta kelahiran, berulang tahun atau acara adat lainnya, yang menjadi pantangan aktifitas berburuh, sebelum berburuh tidak di perbolehkan menceritakan kepada orang atau yang bukan kerabat dekat bahwa akan pergi berburuh karena diyakini bisa mendatangkan sial,  hasil berburuh warga tidak lebih dari target yang di tentukan sesuai dengan kebutuhan, kepercayaan warga ini masih di pegang turun-temurun, aktifitas mencari biya (sejenis kerang) sungai di muara sungai biri biasa dilakukan oleh perempuan baik ibu rumah tangga maupun remaja putri.

Makanan pokok warga ansudu I berupa karbohidrat di peroleh dari singkong, sagu, beras, pisang, keladi, sedangkan protein di peroleh dari hasil pencarian/berburuh berupah ikan laut, ikan sungai, biya muara/sungai, serta hewan berkaki empat dan dua lainnya yang ada di hutan, tingkat kebutuhan pangan beras juga sangat tinggi warga sering menerima beras murah (Raskim) dari kepala kampung dan juga hasil jual dari kakao biasanya warga membeli beras dan melengkapi kebutuhan dapur lainnya.

Kearifan lokal seperti saling menghormati antara orang tua dan anak masih terlihat sangat kental seperti hasil pengamatan di lapangan yang mana bila orang tua sedang berbicara, anak-anak sangat takut untuk berbicara, bermain ataupun berjalan mondar-mandir di sekitar keberadaan orang tua tersebut, aktifitas Warga sering menghabiskan waktu dengan berkumpul bersama keluarga, famili dan tetangga bercerita tentang kejadian maupun pengalaman yang dialami, masyarakat kampung ansudu I sangat terbuka, ramah-tama dan humoris terhadap orang asing atau orang yang baru datang ke kampung ini.

 Tradisi masyarakat pada kampung ansudu lainnya tentang perkawinan, perkawinan warga kampung Ansudu I dikenal dengan kawin masuk dimana bila ada orang di luar kampung ansudu baik pria maupun wanita menikah dengan warga pada kampung ansudu maka orang tersebut harus tinggal dan menetap di kampung ansudu. Konflik yang sering terjadi antar warga biasa di picuh dengan ungkapan-ungkapan yang tidak benar kepada sesama (gossip) sehingga timbul konflik, konflik ini sering di alami oleh wanita, sedangkan konflik yang dialami oleh antar pemerintah kampung serta warga masyarakat adalah menyangkut penggunaan danah bantuan Respek/PNPM, dan pemberdayaan, keberadaan danah ini memicuh konflik, walaupun konflik yang terjadi antara pemerintahan kampung dan sebagian masyarakat tidak begitu kentara di permukaan, namun ini menyebabkan kurang adanya partisipasi antar warga yang tidak senang dengan kepala kampung dalam penggunaan danah yang ada.

2.      Hasil analisis masalah

 Dari hasil indentifikasikan berdasarkan pertemuan dengan warga dan pengamatan lapangan kendalah pokok Permasalahan ekonomi, kesehatan dan pendidikan yang ada di kampung ansudu I dapat dirincikan sebagai berikut:

a.      Permasalahan Ekonomi

 Permasalahan dalam bidang ekonomi yang dialami oleh masyarakat kampung Ansudu I sangat kompleks dengan adanya hasil dari analisis dimana kampung ini mempunyai pontensi sumber daya alam yang melimpah namun belum di kelolah dengan baik karena Motivasi warga untuk mengelolah sumber-sumber yang ada sangat rendah juga pola pikir masyarakat bahwa alam telah menyediakan semua yang dibutuhkan menyangkut pangan (makanan) untuk kebutuhan sehari-hari. Sehingga menimbulkan kendala-kendala yang lain seperti;

  1. Pengelolahan kebun kakao berhektar-hektar masih terbatas.
  2. Lokasi kebun kakao yang jauh jaraknya sehingga kurang di perhatikan perawatan.
  3. Pengelolahan minyak kelapa yang masih pada konsumtif pribadi (keluarga) bukan berorientasi pemasaran dalam jumlah yang banyak.
  4. Angkutan truk bantuan pemerintah yang berfungsi membawah hasil sumber daya alam warga ke pasar di kabupaten mengalami kerusakan berat.
  5. Wadah berupah pasar rakyat belum di fungsikan untuk pemasaran hasil perkebunan, mencari di laut dan hutan (berburu).

Persoalan ini membuat tingkat pendapatan warga sangat rendah sedangkan pemenuhan kebutuhan dasar, pembiayaan anak sekolah, kebutuhan mendadak dan kebutuhan sampingan sangat tinggi.

b.      Kesehatan

 Tingkat kesehatan pada masyarakat kampung ansudu I menyangkut, kesehatan pribadi dan lingkungan masih menjadi persoalan yang sangat mendasar:

1.   Kesehatan  Pribadi

  1. Anak-anak

Penyakit yang sering dialami oleh anak-anak pada kampong ansudu I;

  • Muntaber
  • Cacingan
  • Panas tinggi
  • Malaria
  • Batuk beringus
  • Penyakit kulit
  1. Pemuda dan Orang dewasa
  • Inpeksi saluran Pernapasan (ISPA)
  • Tulang belakang sakit
  • Paru-paru/TBC
  • IMS
  • Malaria
  • Penyakit kulit
  • Anemia (kekurangan darah)

2.   Kesehatan lingkungan

Dimana kesehatan lingkungan sangat erat hubungannya dengan kesehatan pribadi bila kesehatan lingkungan tidak di perhatikan maka kesehatan pribadi manusia juga bisa diserang oleh suatu gejala penyakit. Lingkungan atau udarah pada kampung ansudu I masih asri/alami tidak tercemar oleh zat atau limbah lainnya, namun yang menyebabkan timbulnya masalah penyakit adalah melalui panca rubah cuaca dan karena sangat berhubungan dengan pembangunan sarana fisik kampung seperti pembangunan jalan masuk ke kampung dan penggalian selokan di sepanjang jalan ke kampung ini;

  • Jalan pada kampung ansudu I dan jalan kabupaten merupakan keluar masuknya kendaraan angkutan umum dan truk warga yang beraktifitas mengangkat barang. Jalan ini masih menggunakan karang halus maupun karang kasar persoalannya adalah pada saat musim kemarau/panas keluar dan masuknya kendaraan menyebabkan berterbangan debuh dan asap kendaraan bila orang tua atau anak-anak berada di samping jalan dan pada saat yang bersamaan ada kendaraan yang lalu-lalang menyebabkan debuh berterbangan dan warga menghirup debuh tersebut.
  • Penggalian selokan di sepanjang jalan masuk kampung ansudu I yang inggah kita belum di bangunkan gorong-gorong, menyebabkan pada saat turun hujan air tergenang sehingga Epidemik Malaria (plasmodium) bertelur dan berkembang Biak.
  • Persoalan yang lainnya lagi adalah panca rubah cuaca, cuaca umumnya di Distrik Pantai Timur tidak menentu, sering panas, hujan angin berhembus kencang menyebabkan keadaan dimana tubuh manusia (fisik) tidak dapat menyesuaikan dengan keadaan yang ada, menyebabkan terserang berbagai penyakit.

c. Pendidikan

 Pendidikan merupakan suatu barometer untuk mengukur sumber daya manusia orang papua, pada Kampung Ansudu I sarana pendidikan yang tersedia adalah sebuah sarana/bangunan SD YPK Ansudu, Sekolah Dasar yang sederhana ini di lengkapi dengan sarana dan prasarana, 6 ruangan kelas, dengan papan tulis dan meja bangku yang sederhana apa adanya. SD YPK Ansudu boleh dikatakan sangat memprihatinkan bayangkan pada kampung ansudu I dan kampung tetangga jumlah Usia Anak Sekolah sangat tinggi, namun berbagai pihak dari pemerintah dan orang tua kurang adanya perhatian yang besar.

Dimana 2 guru PNS yang ditempatkan untuk mengabdikan diri sebagai pengajar tidak menjalankan tugas dan fungsi sebagai pendidik malah kepala sekolah mengangkat 3 guru relawan/honorer yang ada di kampung untuk menutupi kekurangan tenagah guru, kapasitas guru honorer memang kurang mengerti bahkan tidak tahu bagaimana mengisi sebuah rapor, menyusun soal ujian berdasarkan kurikulum KBK, mengajukan siswa kelas 6 untuk ujian di Dinas P dan K kabupaten sarmi,  karena tugas tersebut yang patut bertanggung jawab adalah kepala sekolah atau guru PNS yang mengerti soal itu.

Para guru honorer/relawan dan kepala kampung sudah melaporkan keadaan yang terjadi di SD YPK Ansudu I kepada Kepala Dinas P dan K kabupaten Sarmi namun sayang penyampaian ini tidak di gubris walaupun demikian proses belajar-mengajar tetap berjalan tenagah honorer telah menunjukan etikat baik dengan mengabdi sebagai pengajar, kendalah lainnya juga adalah dari orang tua murid yang tidak pahami bahwa pendidikan itu penting apalagi dengan tidak aktifnya guru PNS ini lebih membuat orang tua tidak peduli dalam menyediakan perlengkapan sekolah setiap paginya untuk anak mereka.

d.      Potensi kampung

 Kampung Ansudu I merupakan lokasi yang baru di pindakan dari pinggiran pantai ke daerah daratan yang luas, kampung ini menyimpan sejuta potensi alam dengan keragaman hayati dan non hayati yang cukup menjanjikan, masyarakat dengan nilai kearifan lokal yang tinggi juga membantu menjaga keanekaragaman tersebut. Berikut potensi yang dimiliki kampung ansudu I sebagai berikut;

  1. Potensi Sumber Daya Manusia (SDM)

Potensi Sumber Daya Manusia (SDM) pada kampung Ansudu I hampir semua warga memiliki fisik badan yang bagus dan berotot sangat berpotensial kerja fisik dalam mengelolah potensi laut dan hutan. Juga pada kampung ini sudah ada sarjana berbagai jurusan, seperti; sarjana teologia, ekonomi, perawat, pengajar, dan lain sebagainya dengan adanya sarjana kiranya bisa melakukan transper pengetahuan kepada warga bersama-sama mengelolah Sumber Daya Alam (SDA) yang ada dan dengan demikian kampung ansudu bisa mengalami perubahan dalam hal pola berfikir, semangat juang yang tinggi dan kearifan lokal di jaga.

2. Potensi laut

Bila musim laut teduh masyarakat sering mencari/melaut dengan peralatan sederhana menggunakan kalowai (kayu panjang diujungnya di taruh kawat/besih tajam), jaring dan peralatan sederhana lainnya, masyarakat hanya menangkat ikan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ikan yang sering di dapatkan seperti:  bulana, kakap, bubara dan lain sebagainya.

Berdasarkan hasil laporan warga potensi laut di perairan sarmi sangat besar namun belum di kelolah dengan baik dan tidak didukung oleh sarana dan prasarana yang lengkap juga yang menjadi kendala lainnya lagi, kurang adanya keamanan laut menyebabkan pelaut asing dengan kapal yang canggih biasa mencuri ikan (illegal fishing) disekitar wilayah perairan sarmi, kondisi ini menyebabkan nelayan lokal rugi karena kalah saing dalam pendapatan dan mesin.

3. Potensi Hutan

Umumnya hutan di kabupaten sarmi telah di kelolah oleh berbagai perusahan besar, lebih khusus hutan pada kampung ansudu I boleh di katakan masih lestari namun warga setempat sering menebang pohon untuk keperluan pembangunan kampung dan juga keperluan keluarga mereka namun di dalam hutan tersebut masih tersimpan berbagai macam potensi seperti; Berbagai kayu, kayu matoa, besi dan berbagai macam jenisnya, rotan berbagai macam jenis, juga hutan tersebut hidup berbagai macam satwa liar; burung taun-taun, mepati hutan, biya sungai, kasuari, ayam hutan, maleo, cenderawasih, beo bali, kus-kus pohon, babi hutan dan lain-lain.

Kondisi tanah tropis dan gembur berpasir, tanah yang terdapat di kampung ansudu I tersebut warga biasa menanam berbagai macam tanaman baik tanaman jangka pendek, menengah dan panjang seperti; kakao, mangga, durian rambutan, umbi-umbian, pisang, tebuh, kacang-kacangan, jagung dan lain sebagainya.

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: