Mengenang Jalaluddin Rumi

Mengenang

Jalaluddin

Rumi

 

S  I  N  D  H  U  N  A  T  A

 

Singgasana Hati

Maulana, bagimu, hati adalah kebun yang dihujani
tetes-tetes rahmat-Nya, yang sejukdiembusi
sepoi-sepoi angin rencana-Nya.
Tak pernah hati itu diam, bermalas-malas
karena hati adalah air yang senantiasa mengalir.
Hati adalah telaga, padanya Sang Pencipta
memantulkan Wajah-Nya.
Hati adalah api yang menyalahkan cinta.
“Langit dan bumi tak dapat melingkupi aku,
tapi hati kekasih-Ku melingkupi Aku.”
Ya hati adalah singgasana, yang haus mencari,
agar diatasnya bertakhta Allah sendiri.
Mengapa Maulana, kini demi aturan-aturan suci
aku sering dipaksa untuk pergi dari hatiku?
Hingga aku tak disegarkan tetes rahmat-Nya karena aku bukan lagi kebun-Nya.
Hingga aku tak mengalir karenaaku bukan lagi air-Nya.
Hingga aku kehilangan wajah-Nya karena aku bukan lagi telaga-Nya.
Hingga Dia sendiri pergi karena aku bukan lagi takhta-Nya.
Maulana, aku telah kehilangan hatiku,
hingga aku tak dapat lagi menjerit kepada-Nya,
Dan ketika Dia bertanya, apakah kamu mencintai Aku,
aku tidak bisa menjawabnya. Karena dalam diriku
Tiada lagi air, tiada lagi hujan, tiada lagi angin, tiada lagi api
yang menghidupi aku untuk menjawab cinta-Nta.

2006

Di saduk dari : Majalah BASIS, Hal, 54-59

Nomor 03-04, Tahun Ke -55, Maret – Apri

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: