Ke Surga dengan Menari Sama

Ke Surga dengan Menari Sama

Banyak jalan menujuh Allah, ya Maulana.
Tapi kau pergi ke sana dengan menari riang gembira.
Banyak jalan menuju surga, ya Maulana
Tapi ke sana kaupilih berjalan di jalan sama.
Dari Tabriz Shamsuddin datang ke konya
mengajarimu menari sama, katanya
jangan kau menari sama bila dunia masih mengikatmu
tak bisa kau menari sama bila nafsu masih membelenggumu.
Hanya bila kaujatuh cinta pada-Nya
kau bisa menari sama.
Dengan sama kau menari
Dalam sama kautemukan Dia.
Carilah Dia dengan menari sama dan Dia
akan kautemukan lebih besar daripada yang kau kira.

 

Alastu bi rabbikkum, bukankah aku adalah Tuhanmu
Bala shahhidna,  ya kami adalah saksinya.
Tak ada di dunia ini yang lebih indah dan baik daripada
alam alastu, ketika ciptaan dicipta untuk pertama kalinya
tanpa cacat dan noda sedikit jua.
Kau bilang Maulana, kami semua adalah anak-anak Adam
yang selalu teringat, alam alastu itu penuh dengan musik
surgawi, kendati kami sudah tertutup debu keraguan
dan ketidaktahuan di dunia ini. Suaranya masih terdengar merdu,
membuat hati tertindih rindu. Di sana setiap ciptaan menari-nari,
mengikuti irama musiknya. Tak ada satu pun yang mahu ketinggalan,
surga diatas dengan bulan bintangnya, sampai bumi di bawah
dengan debu pasirnya, semuanya  menari, rindu kembali
ke alam alasta.
Jalan ke surge adalah jalan menari bersama semua yang tercipta
maka bagimu Maulana, sama adalah undangan bagi manusia
untuk menuju ke sana.
Keriat-keriut pintu surga mendengar sama.
Dengarlah, pintu surga sedang menutup karena sama, kata lawanmu.
Tidak, katamu, dengarlah, pintu surga sedang membuka mendengar sama.
Siang hari di kota Konya
Salah ad-Din Zarkub sedang menyepuh emasnya.
Wahai, betapa indah embusan sepuhannya
memenuhi pasar dengan irama sama
meniupkan rindu pulang ke alam alatsu.
Maulana dicekam doa, diajaknya Salah ad-Din Zarkub
berputar-putar menari-narikan sama.
Emas disepuh menjadi tari
Pasar disepuj menjadi sunyi
Kerja disepuh menjadi doa.
Maulana menemukan surga
di pasar yang ramai dan sesak dengan dunia.

2006

Di saduk dari : Majalah BASIS, Hal, 54-59

Nomor 03-04, Tahun Ke -55, Maret – April 2006

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: