Buah Delima dalam Bibir Zulaikha

Buah Delima dalam Bibir Zulaikha

Cinta adalah daun yang embunnya adalah air matanya
Dan shamsuddin adalah matahari. Setiap pagi ia mengisapnya
hingga keringlah kehijauannya, menjadi daun layu yang menjadi
kupu-kupu terbang tanpa tubuh,
tinggal jiwanya yang melayang-layang menjadi rindu.
Rindunya adalah bukit yang memantulkan suara kekasihnya,
adalah napas yang meniupkan seruling kekasihnya,
adalah tanganyang memetikkan harpanya.
Shamsuddin, karena kau, dia merasa
cinta adalah perpisahan yang di persatukan oleh rindu tak
berkesudahan.
Karena itu katamu, Maulana,
cinta tak diperuntukan bagi mereka yang lemah.
Hanya mereka yang kuat bisa menanggung cinta.
Karena cinta merobohkan rumahnya, cinta
mengebursamudra menjadi kawah berapi, cinta
mengubah gunung menjadi sebutir pasir, cinta
mengasah batu menjadi mutiara, cinta
menanggung derita menjadi anugrah, cinta
membuat perpisahan menjadi persatuan, cinta
mengubah yang fana menjadi yang baka.

 

Di meja Zulaikha, perempuan-perempuan mengiris jeruk
mata mereka terpesona akan ketampanan Yusuf.
Wahai, mengapa dengan pisau mereka mengiris jari-jarinya
dan bukan buah jeruknya?
Adakah cinta akan Yusuf membuat mereka terlena
dan lupa akan rasa sakit
sedang jari mereka lagi teriris?
Memang, karena cinta, yang pahit jadi manis, yang keras menjadi lunak,
yang buram menjadi terang, yang sakit jadi sehat, yang tuan jadi budak.

 

Yusuf berdiri nun jauh di sana
tapi Zulaikha menyimpan dia dalam rindu hatinya.
Adalah Yusuf di matanya, bila ia melihat
lilin itu mencair karena api.
Adalah Yusuf di bibirnya bila ia mencium
mawar yang sedang berbunga.
Adalah Yusuf di pelukannya, bila ia merasakan
kehangatan mentari membelai tubuhnya.
Adakah Yusuf di selimutnya,
bila ia merasakan kedinginan malam dan kesepian bintang-bintang.
Adalah Yusuf dalam air matanya, bila ia melihat
bulan pergi berpisah dari pagi.

 

Cinta adalah buah delima
Merah dalam bibir Zulaikha.

 

2006 Guayasamin

 

Di saduk dari : Majalah BASIS, Hal, 54-59
Nomor 03-04, Tahun Ke -55, Maret – April 2006

 

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: