Tukang Rombeng

Tukang Rombeng

Hati dari kulit rubah lewat di depan rumah
Berilah aku sebuah, puas rasanya sudah.
Di mana mesti kubeli hati
di hari sepagi ini?
Pedagang mantel kulit rubah berkeliling di kota Konya.
Maulana baru terbangun dari tidurnya.
Tilkϋ, tilkϋ, teriakan pedagang menawarkan mantelnya.
Dilkϋ, dilkȗ,sambut maulana dalam doanya.
pedagang meneriakkan, “ Rubal, kulit rubal.”
Maulana menjawabnya, “ Di mana hatiku, di mana hatiku.”
Tilkϋ itu rubah, Maulana, tapi bagimu
Tilkϋ itu dilkϋ: di mana hatiku?”
Telingah hatiku mendengar tilkϋ menjadi dilkϋ.
Sujudmu mengubah rubah menjadi rindu
akan kekasih hatimu.
Tuhan tak hanya kau temukan dalam doa.
Dalam pedagang kulit rubah pun kau merasakan Dia.
Tiap pagi lewat depan rumahku
penjual roti penjual tahu pedagang minyak pedagang sayur
tukang patri tukang sepatu.
Di telingaku teriakan mereka hanyalah roti tahu minyak sayur
patri dan sepatu.
Adakah dibalik roti itu kelaparanku akan Dia?
Adakah dibalik tahu itu kerinduan itu mengetahui-Nya?
Adakah dibalik minyak itu yang menyalakan cinta-Nya?
Adakah dibalik sayur itu kesegaran yang hendak dianugerahkan-Nya?
Adakah dibalik patri itu lubang yang hendak di masuki-Nya?
Adakah dibalik sepatu itu alas kaki-Nya?
Maulana, ajarilah agar telingahku mendengar yang lain dari pada
yang aku dengar, karena hatiku mau mendengar Dia dalam segala
yang sehari-hari aku dengar.
Sekarang, seperti katamu Maulana, tiap hari aku akan belajar rindu
agar tukang rombeng selalu lewat depan rumahku.
Dan bila ia berteriak “rombeng”, dan bertanya, adakah sepatu bekas
atau baju tua yang hendak kujual, aku akan menjawabnya,
sepatu bekas atau baju tua aku tak punya, yang kupunya adalah segala harta
tak berguna, yang menyesaki rumah hatiku, tumpah ruah.
Ambillah harta itu, dan kosongkanlah rumah hatiku.
Sitilah segala yang memenuinya.
Biar disana tiada lagi lagi apa-apa, yang bisa mengotorinya:
biar hatiku tersedia menjadi rumah-Nya.
Maulana, dulu tukang rombeng itu lewat setiap hari
mengapa kini dia tak juga datang-datang lagi?
Adakah aku terlalu miskin baginya,sampai ia mengira aku tak punya apa-apa.
Atau adakah aku trlalu kaya baginya, sampai ia tak berani datang untuk memintah?
Dilkȗ, dilkȗ, di manakah bias kudapatkan hatiku?

2006

Di saduk dari : Majalah BASIS, Hal, 54-59

Nomor 03-04, Tahun Ke -55, Maret – April 2006

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: