Problematika: Remaja dan HIV/AIDS

Problematika: Remaja dan HIV/AIDS

 Dengan semakin dekatnya usia kematangan yang sah, para remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan stereotip belasan tahun dan untuk memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa. Berpakaian dan bertindak seperti orang dewasa ternyata belumlah cukup. Oleh karena itu, remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa, yaitu merokok, minum – minuman keras, menggunakan obat – obatan, dan terlibat dalam perbuatan seks. Mereka menganggap bahwa perilaku ini akan memberikan citra yang mereka inginakan.(Elizabeth B Hurlock: Psikologi Perkembangan : Edisi Kelima hal. 209)

 Problematika perilaku kehidupan manusia penuh dengan ancaman yang timbulnya dari dalam diri remaja itu sendiri, hidup penuh dengan bayang-bayang ancaman. Virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang katannya awal ditemukan Kasus HIV di Tana Papua pertama pada tahun 1992 di Kabupaten Merauke dengan HIV positif  6 orang terdiri  dari 4 nelayan Thailand dan 2 Penduduk Transmigrasi. Sejak saat itu kasus terus bermunculan dan meningkat. Kasus AIDS (Acquired Immuned Eficiency Syndrome) dan transmisi virus HIV telah ditemukan merata di seluruh kabupaten dan kota se-Papua, data terbaru KPA Provinsi Papua per 30 september 2010 menyebutkan kasus HIV AIDS sebanyak 6303 jiwa, terdiri dari HIV 3093 jiwa dan AIDS 3210 jiwa, Virus ini menyerang tanpa batas status sosial dan usia manusia mulai dari anak-anak, remaja, pemuda-pemudi, pasangan muda, bapak-bapak dan ibu rumah tanggah penuh dengan kerisauan yang sangat akut. Kerisauan tersebut membuat para pemangku kebijakan mengambil langkah-langkah proteksi dan pencegahan dengan tindakan – tindakan real di lapangan.

  Saya teringat sewaktu duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) pernah diadakan “penyuluhan Narkoba dan Dampak Seks Bebas” oleh KPA,  akhir dari penyuluhan petugas menjelaskan Alat Kontrasepsi (kondom) berbagai macam jenis,  aku  sangat penasaran dan bertanya kepada teman sebangku, bungkusan apa itu,.! maklum pertama kali baru melihat kondom, kata teman ku “itu kondom (alat kontrasepsi) mereka akan menjelaskan di depan ruangan, bagaimana cara penggunaannya, siapa saja yang pantas menggunakan dan fungsinya untuk apa,”  sembari terpikir oleh ku “jadi mereka mengajarkan peranan dari kondom, aku juga terpikir lagi, apakah dalam ruangan aula yang tergabung (kelas I, II dan II ) ada yang pernah melakukan (berhubungan seks)! karena penasaran aku bertanya kepada petugas penyuluh” bagaimana dengan kami yang tidak pernah melakukan hubungan intim layaknya orang dewasa,..! apakah kami juga harus membawah dan menyimpan kondom? ” jawab penyuluh  “bisa  kalau sudah tidak bisa tahan godahan, di simpan untuk jaga-jaga!” berbagai lontaran suara ejekan dari teman-teman mengakhiri pertanyaanku “stop bikin halim kayak tidak pernah coba kah!!(memakai kondom).

Realitas diatas menggambarkan kepada kita bahwa kondom adalah suatu solusi akhir, namun menurut saya sangat kurang tepat untuk para remaja karena persoalan intinya ada pada masalah perilaku, melakukan tindakan seks bebas (Free Sex) atau tunggu sampai benar-benar matang (dewasa). Peran Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) harus lebih jelih berdiri di depan memberikan panutan dan bersama-sama dengan para stakeholder yang ada di masyarakat mulai dari pemerintahan terbawah (kampung) hingga pemerintah di atas, merangkul Pengusaha, NGO, Agama, Adat, Orangtua dan lain-lain.  Sangat disayangkan jika remaja dewasa ini masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas sudah bisa melakukan Game Hot ala orang dewasa, betul dan fakta di lapangan peran Orang tua dalam mendidik anak mereka di rumah sangat kurang aktif, persoalan mendasar Orang tua tidak memiliki pengetahuan dalam menuntun anak mereka sedangkan peran Guru dan Pelayan Agama (gereja, mesjit dll) belum fokal dalam mengkontrol terhadap remaja penerus bangsa  ini kedepan.

 Kembali pada cerita diatas, karena kondom di bagi-bagikan secara gratis dengan luguh dan ikut-ikutan sesama teman, aku pun mengisi kondom yang ada ke dalam kantung tas. Pengetahuan tentang Masalah Narkoba dan Dampak Seks Bebas telah membuka wawasan akan dampak negatifnya, namun masalah yang tidak ku duga-duga terjadi, sesampai di rumah karena badan loyo dan capek aku pun tidur tanpa disadari Orangtua ku (ibu) membuka dan memeriksa isi kantong tas dan apa yang terjadi..!! didikan Orangtua yang keras mengharuskan ku di bangunkan dengan paksa, sembari sudah bangun tapi masih menutup mata, aku disambut dengan suara yang lantang..”barang apa ini yang ada di dalam ko pu tas ”(maksud Orangtuaku, kamu punya isi kantong tas), “sudah bisa ya simpan barang ini.” tamparan Orang tua ku mengingatkan bahwa yang dimaksudnya adalah kondom, dengan sadar apa yang terjadi aku bangun karena takut, kesal dan dicampuri  ingin menjelaskan semuanya, tetapi aku berdiri dan harus berlari melewati belakang orangtua ku hingga ke luar rumah.

 Berbagai upaya pencegahan penyebaran HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS) lainnya seringkali tidak tersedia bagi para remaja. Karena jumlah orang yang terinfeksi HIV meningkat dengan pesat di kalangan usia 15-24 tahun, maka perlu dilakukan upaya-upaya khusus bagi kelompok tersebut. Agar menurunkan dampak secara keseluruhan, upaya untuk  dapat mendidik para kaum remaja menjadi sangat penting karena pada intinya, memberdayakan generasi muda untuk melindungi diri mereka adalah langka pertama untuk mengendalikan HIV/AIDS. Selain itu, pada hakekatnya kaum muda memiliki hak untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan agar mereka tidak rentang terhadap epidemis ini dan mendapatkan perlindungan yang layak.

 Aku takut pulang ke rumah, tapi perasaan menghendaki bahwa saya harus pulang untuk menjelaskan kepada Orangtua tentang keberadaan  kondom di dalam kantong tasku, sesampai di depan pagar rumah, Orangtuaku berada di depan teras rumah dari luar pagar aku dengan suara lantang berkata” mama (Ibu) saya ingin menjelaskan keberadaan kondom di dalam tas”, tak di sangkah mama (Ibu) memanggilku untuk masuk ke teras rumah dan ia memintah maaf, ternyata mereka (Orang tua) sudah tahu bahwa kondom itu di bagikan pada saat  kegiatan penyuluhan di sekolah, syukur…kataku perasaan senang dalam hati, ternyata Orangtuaku sudah menanyakan dan mendapatkan informasi tentang kondom dari  teman  tetangga sebelah rumah kami.

 Aku sangat bersyukur walaupun pendidikan Orang tuaku hanya sampai pada Sekolah Lanjutan Atas, tapi mereka memahami bagaimana cara menuntun dan mengajari anak yang baik, realita sering aku mendapatkan perlakuan kasar namun itulah didikan orangtuaku.

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: