Karyawan PT. Freeport Indonesia ancam Mogok (Jilib II)

Juli 13, 2012 - Leave a Response

Karyawan PT. Freeport Indonesia ancam Mogok (Jilib II)

 

TIMIKA- Masih teringat di bayang-bayang mogok kerja yang telah dilakukan oleh Karyawan PT. Freeport Indondesia (PT.FI) melalui fasilitatornya Serikat Pekerja Seluru Indonesia (SPSI) PT.FI yang berhimbas memakan dua (2) korban jiwa atas nama alm. Petrus Ayamiseba dan alm. Leo Wandagau, deretan peristiwa yang bermula pada tanggal 15 september 2011 silam tersebut.

Kali ini di bawah komando SPSI PT.FI direncanakan melakukan mogok kerja menyusul belum terealisasinya pemenuhan janji tuntutan mogok kerja jilib I.Pada mogok kerja jilib I pihak SPSI menuntut beberapa point penting antara lain sesuaikan payslip dengan standar nasional yang berlaku di Indonesia, masalah tunjangan /pensiunan harus di bayar langsung dan lainnya.

Rencana kali ini karyawan akan melakukan mogok kerja pada tanggal 12 juli 2012, salah satu karyawan pada Departemen Pangan Sari Utama (SPU) PT. FI, Benny  Magai mengungkapkan“senadanya karyawandi setiap Departemen PT.FI akan rencana melakukan mogok kerja”,  alasannya Magai mengungkapkan lagi “karena tuntutan mogok kerja jlib I belum di realisasikan padahal SPSI telah berjuang menempuh tantangan, perpecahan kubu, godaan dan telah menang namun perjanjian hitam putih diatas kertas antara karyawan dalam hal ini SPSI dan PT.FI belum ada bukti nyata”, “setelah kami melihat gaji pokokdi ATM tidak ada penambahan”. Gaji pokok karyawan Non Staf Departemen PSU perbulan biasanya menerima Rp.  3.000.000,-dijanjikan oleh Managemen akan ditambah gaji pokok sebesar Rp. 2.000.000,- inggah total keseluruan sebesar Rp. 5.000.000,- namun berita ini diturunkan belum digubris oleh pihak ManagemenPT. FI.

Dari pengamatan di lapangan aktivitas karyawan masih berjalan seperti biasanya dimana pembagian jam kerja baik tugas malam maupun pagi masih berjalan normal tetapi hanya karyawan dari Departemen PSU beberapa hari lalu ada melakukan protes pada managemennya juga ada melakukan pertemuan guna menindaklanjuti kenyataan ini, Departemen yang tugas pokoknya adalah menyediakan pasokan bahan makanan bagi karyawan melalui mess pada setiap departemen di PT.FI ini.

Pada kenyataannya semua karyawan ingin melakukan aksi mogok kerja guna satu suara agar tunjangan dan kesejahteraan lebih diperhatikan lagi namun ada juga karyawan yang tidaksetuju melakukan aksi tersebut.Seperti yang diungkapkan salah satu karyawan non papua ungkap Heru, “ kami berharap tidak terjadi hal seperti itu lagi karena kemarin terjadi mogok berhimbas pada semua masyarakat baik karyawan, pemerintah apalagi masyarakat kecil, sudah susah tambah susah bahan kebutuhan pokok sudah tambah mahal malah terjadi korban jwa dan benda”. Ungkapnya dengan penuh harapan dan juga membenarkan mendengar isu-isu di departemen tempat dimana Heru bekerja.

Berbagai ungkapan dengan isu-isu yang beredar memaksakan kita untuk berfikir kedua kali lagi apa yang akan terjadi lagi bila diadakan mogok karyawan ? yang pastinya undang-undang telah mengamanatkan sah-sah saja melakukan aksi mogok tuntutan kesejahteraan dan lain sebagainya, namun dengan cara-cara yang bermartabat dan santun.Terutama PT.FI harus bisa menjelaskan kondisi yang ada di managemen, bisa saja kondisi ini menjadi celah memperuncing keadaan dengan hadirnya pihak-pihak orang ketiga dengan tujuan tertentu. (Kepuge Magai)

Pendidikan di Timika Kian Mengecewakan Putra Daerah

Juli 13, 2012 - Leave a Response

Pendidikan di Timika Kian Mengecewakan Putra Daerah

Timika- Pada tahun ajaran 2011-2012 ada yang unik saat mendengarkan pengumuman hasil kelulusan bagi para siswa/I pelajar se kota timika. Unik dimana pada tahun ajaran ini baik Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah pertama (SMP) dan juga Sekolah Menengah Atas (SMA/SMK) sederajat pada saat menyambut hasil pengumuman kelulusan sekolah dengan berbagai cara dilakukan diantarannya,  ada sekolah yang melakukan ibadah doa bersama, menyumbangkan pakaian sekolah  kepada pelajar  tidak mampu yang hendak melanjutkan pendidikan, juga dengan cara memakai busana adat setempat dan lain sebagainya,  semua ini merupakan perjuangan pemerintah guna menekan ugal-ugalan pelajar dengan mencoret-coret baju, mabuk-mabukan, ngebut-ngebutan dengan kendaraan bermotor dan dalam bentuk negatif lainnya.

Bagi  para putra-putri daerah asli Mimika tentunya  mempunyai cita-cita melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi lagi karena mereka mempunyai peluang yang besar  sebagai penerima beasiswa  baik dari Lembaga Non Pemerintah (NGO) dan juga Pemerintah karena UU Otsus No 21 tahun 2001 telah menjamin pendidikan murah atau bahkan secara gratis.

Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) merupakan lembaga non pemerintah yang juga fokus pada pengembangan pendidikan. Bila kita membaca  poster  yang beredar bulan mei lalu, melalui media massa dan  juga mendengar di media elektronik  tentang Pengumuman Penjaringan Calon Peserta Penerima Beasiswa LPMAK untuk SMA dan Perguruan Tinggi bagi Putra Daerah melalui Biro Pendidikan dengan sasaran seleksi peserta  yaitu peserta tes merupakan lulusan dari sekolah di Kabupaten mimika dan  berasal dari  dua suku utama masyarakat asli, yaitu masyarakat Amungme dan Kamoro, serta lima suku masyarakat asli lain yang berada di Kabupaten Mimika, yaitu masyarakat Dani, Moni, Mee/Ekari, Damal, dan Nduga, sebagai penerima manfaat Tanggung Jawab Social Perusahan (Corporated Social Responsibility) dari PT. Freeport Indonesia (PT.FI) yang di kelolah dana 1% oleh LPMAK.

Menurut Pejabat LPMAK Kepala Biro Pendidikan Paskalis Abner, SE disela-sela sosialisasi dan pameran LPMAK serta lembaga parner bertempat di hotel Timika Raya pada tanggal (22/5) mengungkapkan “proses seleksi yang sangat ketat mulai dari tes tertulis yang mencakup pengetahuan umum hingga psikotes. Tak cukup sampai disitu, mereka harus menjalani lagi medical test di Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika guna memeriksa kesehatan tiap peserta”. Dari data yang dihimpun Buletin Landas berdasarkan data sepanjang lima tahun terakhir 2007 hingga 2011, Biro Pendidikan telah memberhentikan sekitar 344 orang peserta beasiswa. Sedangkan peserta program yang lulus sebanyak 540-an. Dari peserta yang diberhentikan sebagai penerima beasiswa dikarenakan melakukan pelanggagaran indisipliner yang telah disepakati bersama.

Sementara itu ditempat yang berbedah tokoh pemuda mimika dari suku Mee/Ekagi, Obeth Yatipai berkomentar “proses mekanisme penjaringan penerimaan beasiswa oleh LPMAK melalui Biro Pendidikan penuh dengan kebohongan hanya skenario belakah” tambahnya lagi “ hasilnya pasti mereka yang orangtuanya bekerja sebagai karyawan dan di  pemerintah dengan jabatan tertentu  yang akan mengisi tempat sebagai penerimaan beasiswa”.

Setelah hasil pengumuman seleksi penerimaan beasiswa LPMAK bulan juni minggu kedua diumumkan, membuat beberapa masyarakat tujuh suku kecewa, alasannya hasil penjaringan tidak sesuai dengan keberpihakkan kepada tujuh suku, “bila kita melihat ada suku papua lain bahkan non papua yang lulus seleksi dan menerima manfaat, kenapa!! Lalu anak-anak kita ini orang dari mana”. Ungkap protes warga saat melihat hasil pengumuman yang tidak jujur penuh dengan kebohongan belakah atas nama tujuh suku, atas nama pemberdayaan masyarakat asli putra daerah tapi kenyataannya setiap tahun demikian “.

Kerisauwan dan kekecewaan  bukan hanya di alami oleh putra daerah yang gagal tidak diterima sebagai penerima manfaat beasiswa program LPMAK namun juga kenyataan pahit ini di alami oleh putra daerah lainnya yang  hendak mendaftar di sekolah favorit mereka yaitu pada salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di kota Timika. Kenyataan pahit ini harus diterima oleh setiap pelajar miskin saat mendengarkan pengumuman kelulusan pada tanggal (7/7), mereka harus membayar uang masuk sekolah sebesar Rp. 2.500.000,- dengan batas waktu pembayaran yang singkat yaitu tutup pada tanggal (11/7). Kekesalan itu nampak pada wajah Delpon Muyapa, putra daerah yang telah lulus tes pada jurusan listrik di salah satu sekolah SMK terkemuka,  saat berbincang-bincang dengan teman seangkatan berharap orang tuanya di kampung segera mengirim uang dengan besaran yang diminta oleh pihak sekolah.

 

Wujud perhatian melalui kampanye “Pendidikan untuk semua” merupakan kampaye pendidikan yang digemakan oleh segenap pemerhatin pendidikan baik oleh pemerintah maupun lembaga non pemerintah, ungkapan ini menjelaskan kepada kita bahwa pendidikan sedang digalahkan untuk semua status sosial di masyarakat, masyarakat mempunyai hak yang sama dalam menempuh pendidikan dan menerima bantuan dari lembaga tertentu , lalu yang perlu di pertanyakan bila pendidikan itu sendiri ada pengkotak-kotakan antara lembaga dan atau sekolah akan status sosial masyarakat tertentu!! bagaimana dengan status sosial masyarakat putra daerah? yang notabene keluarga miskin.

Sementara itu penyampaian keras dilayangkan anggota DPRD Mimika, Wilhelmus Pigai. Pada bulletin Landas, Sebagai wakil rakyat, dia mengkritik kinerja pemerintah daerah yang menurutnya kurang tanggap dengan masalah pendidikan di Mimika. Menurut pandangan Pigai jika semua elemen masyarakat peduli pendidikan,  yang ada di mimika harus bekerjasama maka peningkatan kualitas pendidikan di Mimika akan menjadi lebih mudah. “Pemerintah perlu bekerja keras lagi dalam mengatasi tantangan yang ada,” tegas pigai.

Fasilitas yang mendukung peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan lainnya melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kualitas pendidikan, peningkatan manajemen pendidikan, serta pengadaan fasilitas lainnya telah banyak dilakukan oleh Pemerintah dan PT.FI dalam hal ini LPMAK, namun berbagai indikator menunjukan bahwa mutu pendidikan masih belum meningkat secara signifikan.

 

Realita diatas merupakan seberapa contoh kasus yang kasat mata kita lihat dan dengar, namun keberhasilan pendidikan tersebut hanya selalu dikonotasikan dengan berbagai macam pembangunan fisik sarana-prasarana, seberapa besar jumlah pelajar dan mahasiswa  yang diterima pada program beasiswa dari pemerintah dan lembaga non pemerintah namun tidak diukur dengan seberapa banyak jumlah keberhasilan program LPMAK dalam memanusiakan manusia di bumi amungsa bahkan papua secara umum yang telah menempati  posisi bagus di pemerintah, lembaga non pemerintah dan  seberapa besar lulusan sarjana yang telah membuka peluang lapangan kerja!! ini pertanyaan yang harus kita jawab bersama.

 

Guna melihat kemajuan atau kemunduran suatu program perlu diadakan monitoring dan Evaluasi Program secara berkala dan menindak lanjuti hasil evaluasi tersebut. Perlu juga turut berpartisipasi semua kalangan yang berkompeten, LPMAK harus mulai berfikir inovatif, membuka diri, mencari formula yang sesuai tepat dengan karakteristik akan  pendekatan sistem didik yang tepat terhadap  karakteristik yang ada pada putra daerah tujuh suku.

 

lPMAK juga perlu kerja sama dengan lembaga penelitian yang sudah lama berkipra di papua guna melakukan studi antropologi pendidikan dengan menggali lagi sistem didik yang sudah ada untuk diangkat dan dikolaborasikan  dengan perkembangan sistem didik zaman sekarang. Wujudnya bahwa pendidikan adalah menjadi tanggungjawab bersama, percuma dengan membuat evaluasi program bahkan sosialisasi programnya sering diadakan di luar papua dengan danah milik Sumber Daya Alam (SDA) masyarakat adat tapi hasilnya belum menunjukan kemajuan yang berarti.

 

Pertanyaan terakhirnya lagi bila kekuatan permodalan besar dari  PT.FI dengan CSR yang dikelolah oleh  LPMAK melalui Biro Pendidikan  dan dari  Pemerintah dengan Dana Otsus pada  bidang  Pendidikan di prioritas 15 % belum menunjukan mutu pendidikan, Pendidikan murah dan Kualitas Lulusan yang siap bersaing,  kalau demikian bukan pendanaannya yang menjadi masalah utama lalu komponen yang mana yang perlu dibenahi bersama? manajemen biro pendidikannya? manajemen SKPD terkait ? Orangtua penerima manfaat kah? atau Lembaga parner yang belum menunjukan kompeten dalam pembinaan? atau siapa yang harus bertanggungjawab.!!

 

Kata kuncinya bahwa pendidikan menjadi tanggungjawab bersama, Sumber Daya Alam (SDA) milik masyarakat adat perlu diperhatikan oleh Pemerintah dan Lembaga Non pemerintah (NGO) agar dapat mengelolah danah Pendidikan secara bijak dan lembaga legislatif (DPRD) harus menjalankan fungsi kontrol guna penerima maanfaat  benar-benar menjadi focus perhatian.

(Kepuge Magai)

 

 

 

 

 

Harga Diri

Februari 27, 2012 - Leave a Response

Harga Diri dan Warga Negara

Suatu Renungan

 

Bangsa itu penuh dengan gejolak yang kian semakin menjadi-jadi, Masalah Korupsi, Pelanggaran HAM, Tenaga Kerja Indonesia (TKI), belum lagi masalah Persepakbolaan Indonesia (PSSI) dan yang lainnya bagaikan air hujan deras yang ditampung di drum untuk dipakai dalam kebutuhan sehari-hari oleh sebagian besar warga di nusantra, penuh dan terus tumpah-ruah berhamburan sehingga tak bisa lagi bahkan tak tahu mana yang sudah dan akan dalam proses penyelesaian gejolak tersebut. Papua penuh dengan gejolak, tanah yang pernah penuh dengan kedamaian itu kian berubah menjadikan tanah kejahatan kemanusiaan. Berbagai  suku bangsa berdatangan menjadikan Tanah Papua sebagai rumah bersama dengan kepentingan yang berbeda-beda sedangkan Orang Papua penuh dengan intrik persoalan batinia,  kalau ada yang komentar bahwa manusia hidup bila akan menjadi dewasa harus melalui persoalan apa saja….! Itu wajar dan dapat dibenarkan tapi bila ada oknum, institusi yang secara kelembagaan menginginkan persoalan terjadi dan dipelihara? Bagaimana jadinya..!. ha…itu sangat komplek, masalah moral saja sering dikesampingkan.

Malam akhir pekan, adek teman ku, Anak Baru Gede (ABG) tersebut menikmati remang-remang kota metropolitan. ABG itu terkejut setelah mendengar suara nan ayu dari dalam taman kota itu “ hai cowo sendirian yah..bisa ditemani”, darah muda tersebut termakan nafsu bisikan iblis, tak panjang lebar sang ABG menyambar pemilik suara nan ayu,  setelah itu saling bertatapan dan terjadilah teransaksi gilaan,… pendek cerita hendak  melampiaskan nafsu birahi di salah satu rumah border, terjadilah sweeping oleh Pol.PP kota, di tangkap semuanya dan digiring ke kantor, wah….malunya mintah ampun apalagi kalau di introgasi panjang lebar mengenai statusnya, pendidikan, usia, pekerjaan orangtua, dll, muka ini mahu taruh dimana!, Harga Diri turun drastis, realita Warga Negara yang tak Kontrol perilaku negatifnya dan otomatis menenggelamkan Harga Dirinya.

Salah satu Filosofi orang papua adalah bercerita, bercerita atau berbicara kepada sesama merupakan cara orang papua mengekspresi, kesenangan, emosional berupah maklumat, visi kedepan, kepada siapa saja yang di anggap perlu untuk mendapatkan informasi jadi jangan heran bila cerita tempo dulu, menjadi rumor dewasa ini.

Saya melihat Persoalan papua adalah Persoalan Harga Diri,  selama ini tanah papua telah dicerai-beraikan tanpa melihat masukan dari Warga Negara pemilik Tanah Papua, orang di pusat dan daerah sering berfikir dengan pemekaran wilayah, pemberian jabatan kepada putra daerah, dan program primadona Pemerintah Provinsi Rencana Strategis Pembangunan Kampung (Respek) akan memberikan nilai pembangunan tersendiri agar Harga Diri Orang Papua Kembali dipulihkan. Padahal perlu dilihat adalah apakah Warga Negara Orang Papua menyadari perlu ada pemekaran, sudah patutkah dan berpengalaman  putra daerah menduduki suatu jabatan tertentu, Program Respek apakah telah menyentuh Warga Negara Orang Papua, demikian pertanyaan sederhananya.

Persoalan papua adalah menyangkut Harga Diri sebagai Orang Papua yang mempunyai adat-istiada beraneka ragam, banyak cerita orangtua di kampung tempo dulu yang membicarakan mengenai gejolak politik pada tahun 1960 hingga sekarang, memuat tentang perilaku bringas para oknum militer kolonialisme dengan berbagai kepentingan entah itu ekonomi, politik dll.., “di kampung ini pernah ada pembantaian, untuk melampiaskan hawa nafsu di perkosa setiap anak-anak remaja putri, bahan makanan mereka habis lalu bukannya memintah atau tukar dengan barang berharga kepada masyarakat, tapi mereka merampas hasil kebun dan ternak kami, pada saat mengambil hasil orangtua dulu terjadi perlawanan yang mengakibatkan korban jiwa”, dengan bahasa sederhana, sambil  meminum kopi pahit, cerita seperti begini bukan hal yang perluh ditutupi, adalagi Operasi Koteka, semua diwajibkan memakai pakaian dan segera menggantikan cawat atau koteka (pakaian tradisional).

Jangankan kejadian bejat di kampung yang sangat terisolir menjadi buah bibir, dewasa ini juga di Negara tetangga hal perilaku bejat juga terjadi, masih teringat diingatan berita di TV Nasional, memberitakan tentang Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia di Malaysia (Negeri Jiran) membunuh majikannya, persoalannya TKW hendak di perkosa, terjadilah perlawanan hingga menyebabkan majikan meninggal dunia, setelah TKW memukul majikan dengan peralatan seadanya. TKW Indonesia ini menunjukan perlawanan terhadap majikan yang hendak merenggut Harga Dirinya (memperkosa). Setiap manusia mempunyai Harga Diri, apalagi tanah papua dan Orang Papua itu sendiri.

Pertanyaan dewasa ini, bila Harga Diri  sebagai Warga Negara tidak dijamin oleh Negara lalu siapa yang hendak menjamin…?

Untuk membangun papua, “Harga Diri  Orang Papua” yang terlebih dahulu harus di bangun. Terutama Harga Diri sebagai manusia, Bangsa Indonesia harus melihat Orang Papua sebagai subjek bukan objek dalam Pembangunan Bangsa dan Negara. Orang Papua siap menjalankan apa itu pengampunan sejati bagi para kolonialisme bejat karena Orang Papua tahu hanya dengan Saling memaafkan akan ada masa depan yang berarti, saling mengakui kesalahan, menghukum Pelaku pelanggaran HAM sesuai dengan perbuatannya merupakan langkah awal menumbuhkan Harga Diri Orang Papua.

Bangsa Indonesia yang besar dengan menganut Paham Demokrasi adalah Negara yang seharusnya mampu mengaktualisasikan nilai-nilai demokrasi itu sendiri.  Keadilan dan kemanusiaan modal utama dalam  pembangunan tanah dan Warga Negara Orang Papua.

PROFIL KAMPUNG BENERAF

Agustus 9, 2011 - Leave a Response

PROFIL KAMPUNG BENERAF

A. Sejarah berdirinya kampung beneraf

Penduduk yang kini hidup dan bermukim di kampung beneraf, konon adalah penduduk yang hidup dan bermukim di kampung “Edwas” yang artinya “kampung Tua/kampung besar”. Kampung edwas ini terletak di pedalaman pantai timur sarmi, yang letaknya ± 8,5 km dari kampung sekarang(kampung beneraf). Kolektif masyarakat yang hidup dan bermukim di kampung edwas ini berasal dari suku “MANIREM” Salah satu suku besar yang ada di wilayah Kabupaten SARMI. Saat itu (diperkiraan sekitar Tahun 1930-an) Kehidupan masyarakat yang hidup di kampung edwas ini masih Primitif.  hal ini dibuktikan dengan masih dianutnya pola bermatapencahariaan yang nomaden,  dan juga masih melakukan perang-perang suku antar penduduk perkampungan sekitarnya seperti Urunumguay, tra-tra, ibi, foja, dll.

Melihat persoalan diatas, akhirnya pada 1938 di era pemerintahan UNTEA Belanda, Bestir donkir  mencoba mengatasi pertikaian perang suku dengan merelokasikan penduduk dari kampung edwas ke pesisir pantai timur Sarmi.  Mereka diberikan tempat pemukiman yang merupakan hak ulayat tanah milik “suku takar”. Selain disebabkan oleh peristiwa yang sudah dijelaskan, penduduk yan bermukim di kampung beneraf tersebut juga dihadapi oleh gejolak social, politik dan alam yaitu : Perang dunia ke-2 (tahun ,1944-1948), banjir (tahun 1964-1870), dan pertikaian antara OPM & TNI (tahun 1984-1986).sehingga mengakibatkan mereka secara terpaksa harus mengungsi ke kampung lama (Edwas) hingga aman dari musibah baru kembali lagi. Setelah melewati beberapa rentetan peristiwa yang melanda penduduk kampung beneraf yang bermukim di kampung beneraf ini, akhirnya pada tahun 1991 kampung tersebut didefinifkan menjadi salah satu perkampungan yang berada di bawah wilayah administrasi pemerintahan kabupaten Jayapura. Dan pada tahun 2003 kampung tersebut masuk dalam wilayah administrasi pemerintahan kabupaten sarmi.

 B. Arti nama kampung

Bner-af,  adalah nama yang diberikan oleh salah seorang bestir di masa pemerintahan UNTEA Belanda  yaitu “ Bestir Donkir”.  Sedangkan nama lain yang juga sering disebut-sebut oleh masyarakat setempat adalah  “kampung Endar” yang artinya ‘kampung kecil lalu kemudian berubah lagi menjadi ”sowidin” yang artinya “bunyi banjir”. Nama kampung benr-af berasal dari 2 kata terjemahan bahasa asli suku manirem yang masing – masing adalah :

–        Bner       : yang artinya buah ketapang hutan, dan

–        Af           : yang artinya buah gayang pantai

Kedua nama ini kemudian digabungkan menjadi kata “Bner-af”. yang mana melambangkan “karakter orang beneraf yang keras” seperti nama 2 (dua) buah dimaksud diatas. Artinya karakter masyarakat yang suka berperang dan keras kepala.

 C.      Sejarah kontak dengan dunia luar

Berdasarkan data yang didapat dari hasil wawancara pada beberapa informan, salah satunya ialah kepala kampung, kampung beneraf semenjak 1909 s/d 1912 di datangi oleh para pencari/pemburu burung cenderawsih dari kepulauan ternate/tidore, dan dipertengahan era ini tepatnya pada tahun 1911 ottow dan geissler 2 orang penginjil eropa menyebarkan injil di wilayah ini. kemudian pada tahun 1912-1925 masuk lagi beberapa pengusaha geta damar dari jerman dan yang terakhir pada tahun 2003 masuk PT.SOMALINDO las STAR JAYA (perushaan kayu, Hal ini secara tidak lansung dapat di simpulkan bahwa di era itu masyarakat beneraf telah melakukan hubungan kontak dengan dunia luar dan secara tidak lansung mendapat pengaruh bagi pembangunan di kampung.

 D.      Sejarah peristiwa dan kejadian-kejadian penting di kampung beneraf

Berikut ini beberapa sejarah terjadinya peristiwa dan kejadian-kejadian penting di kampung beneraf.

1)    Pada tahun 1930         :  peristiwa boswesen

2)    Pada tahun 1944         :  kampung beneraf juga terkena serpihan perang dunia ke-II.

3)    Pada tahun 1964         :  peristiwa banjir besar yang melanda kampung beneraf

4)    Pada tahun 1984         : peristiwa Organisasi Papua Merdeka (OPM) masuk kampung dan terjadi baku tembak dengan pasukan ABRI di wilayah ini

5)    Pada tahun 1992         : kampung beneraf di definitifkan dengan nama kampung “YAMBEN” (gabungan dua kampung yamna dan beneraf.)

6)    Pada tahun 2001         : pemekaran kampung, kampung beneraf manjadi kampung sendiri

7)    Pada tahun 2003         : Pemekaran wilayah SARMI menjadi kabupaten sendiri, sehingga beneraf pun masuk dalam wilayah SARMI (dulunya di wilayah Jayapura)

 KEADAAN WILAYAH

 A.      Letak, Luas, Batas, dan jarak kampung dari pusat informasi

1)      Letak Kampung

Secara administratif Kampung beneraf merupakan salah satu kampung dari 5(lima) kampung yang terletak di wilayah Distrik Pantai Timur Kabupaten Sarmi. Ke-5 (lima) kampung itu ialah : Kampung Komra (Biri2), Kampung Ansudu, Kampung Betaf, Kampung Yamna/sunum, dan kampung Beneraf. Sedangkan secara geografis, kampung beneraf terletak 0-1100 m dari permukaan laut. Sehingga kampung beneraf masuk dalam kategori kampung pesisir pantai.

 2)      Luas Kampung

Luas kampung beneraf secara keseluruhan adalah ± 375 km². sedangkan panjang kampung mencapai ± 750 m². dan melebar dari pantai ke darat ± 500 m².

 3)      Batas kampung

Kampung beneraf secara administratif berbatasan dengan :

– Bagian timur berbatasan dengan kampung sunum

– Bagian barat berbatasan dengan kampung vinyabor/takar

– Bagian utara berbatasan dengan lautan pasifik

    – Bagian selatan berbatasan dengan daerah kabupaten tolikara

 4)      Jarak kampung dari pusat informasi

Jarak dari kampung beneraf ke pusat ibukota distrik (kampung betaf) adalah ± 12 km dan dari kampung beneraf ke pusat pusat kabupaten (SARMI) adalah ± 62 km.

 B.      Jumlah RW & RT

Semenjak masuk dalam wilayah teritorial pemerintahan Kabupaten Sarmi, Kampung beneraf terbagi atas 2 Rukun Warga (RW), dan 5 Rukun tetangga (RT).

 C.      Keadaan Cuaca Dan Iklim

Secara geografis kampung beneraf dan beberapa kampung lainnya yang berada di lokasi distrik pantai timur kabupaten sarmi terletak 0 – 1100 m di atas permukaan air laut, dengan rata –rata curah hujan sebesar – 132,25 mm/ tahun. Berdasarkan data iklim yang di peroleh dari stasiun meterologi jayapura selam lima tahun terakhir diketahui curah hujan rata – rata untuk kabupaten sarmi adalah 2570 mm/tahun ,dengan rata – rata hari hujan 205,6 hari/tahun, rata – rata suhu udara biasa berkisar 27,01 °C dan suhu udara biasa rata – rata maksimum 29,48 °C/tahun serta rata – rata kelembapan udara 88,55% /tahun. Iklim wilayah kabupaten sarmi menurut Schmidt dan ferguson (1951) diklasifikasikan kedalam iklim tipe A. yang memiliki cirri – ciri yaitu daerah beriklim sangat basah dan vegetasi hujan tropis. Curah hujan tahunan tercatat berkisar antara 2.5 – 3.5 m pertahun dengan rata – rata 2.8 m pertahun. Suhu udara rata – rata di wilwyah ini relative tinggi setiap bulannya yaitu 27,0 °C dengan kisaran 26.4 °C ( bulan agustus ) 27.6 °C ( bulan desember ), dengan suhu udara minimum berkisar 22.3 °C (bulan februari ) sampai ( bulan November dan desember ). Sementara jumlah hari hujan berkisar 14 hari ( bulan desember ) sampai 22 hari ( bulan juli ) dengan rata – rata hari hujan 17 hari dalam sebulan. Dalam setahun tercatat 203 hari hujan atau lebih dalam 6 bulan dalam setahun hari hujan. Nilai rata – rata kelembapan udara di kabupaten sarmi tercatat 86 %. Kelembapan udara terendah terjadi pada bulan oktober ( 82 % ),sedangkan tertinggi terjadi pada  bulan juni ( 88 % ) kecepatan angin berkisar antara 0,87 m/detik  pada bulan desember sampai 1,85 m/detik  ( badan meterologi dan geofisika stasiun jayapura, 2003).

 D.      Topografi

Hasil identifikasi tanah yang di ambil di salah satu titik dekat Sekolah Dasar YPK Beneraf yang berjarak kurang lebih 75 m dengan arah 20° utara, menunjukkan lapisan tanah di wilayah ini sebagai berikut :

1)      Lapisan 1 dengan kedalaman 0-15 cm bertekstur lempung berpasir dan dan berwarna hitam,konsistensi gempur dengan kandungan bahan organic sedang dan tingkat kemasaman tanah agak masam – netral  ( pH= 6,0 – 7,0 ).

2)      Lapisan 2 dengan kedalaman solum  15 – 25 cm, bertekstur pasir berlempung dan berwarna coklat gelap, konsistensi agak gempur – lepas tanpa stuktur dengan kandungan bahan organic rendah dan tingkat kemasaman tanah agak masam- netrral ( Ph= 6,5 –  7,0 )

3)      Lapisan 3 dengan kedalaman solum 25 – 60 cm, bertekstur pasir dan berwarna coklat keabuan, konsistensi lepas, tanpa stuktur dengan kandungan bahan organic sangat rendah, dan tingkat kemasaman tanah agak masam – netral ( ph= 6,0 – 7,0 ).   Jenis tanah ini di golongkan kedalam jenis tanah Regosol.Sifat ini sangat baik untuk tanah air dan udara bagi system perakaran berbagai jenis tanaman. Tanah pada lapisan 1 menggambarkan kondisi unsure hara sangat tinggi  di tandai oleh lapisan permukaan yangat gelap,namun dalam usaha harus di lakukan dengan hati- hati karena tanah yang subur hanya mencapai 15 cm, hal ini menunjukkan kemampuannya sangat terbatas untuk usaha tanaman  tahunan maupun tanaman setahunan dalam jangka waktu yang sangat lama.

Oleh karena itu untuk mempertahankan produksi yang optimal maka, diperlukan adanya perlakuan khusus seperti usaha pemberian bahan  organic ( sisa-sisa tanaman atau rumput yang telah melapuk atau kompos), di campur dengan tanah pada setiap lubang  tanam yang telah disiapkan di atas bedengan dengan maksud agar butir tanah dapat menyatuh membentuk bongkahan sehingga unsure hara dan air yang akan di berikan kepada tanaman melalui media tanah dapat diikat dan diambil oleh akar  tanaman bagi kelangsungan hidupnya.Kegiatan pengolahan dan pengemburan tanah tidak boleh terlalu intensif karena akan merusak stuktur tanah yang menjadikan kemampuan untuk mengikat unsure hara dan air menjadi rendah. Demikian pengolahan tanah hanya diperlukan pada waktu-waktu tertentu apabila tanaman menunjukan gejalah kelaianan pada pertumbuhannyaitu akibat dari gangguan sifat fisik tanah.

Hidrologi meliputi keadaan air yang terdapat di atas permukaan tanah maupun dalam tanah yang berpotensi dan berkwalitas untuk dapat di gunakan sebagai kelangsungan hidup mahkluk hidup baik untuk manusia dan tumbuh-tumbuhan. Beberapa sungai/kali yang terdapat di kampung Beneraf adalah : sungai/kali Otuar,Bintenkon, Kwantra, Sen, Nes, Tmon, Uraner, Meson, Ungku, dan Ewaden yang tidak pernah kering sepanjang tahun walaupun musim kemarau           

E.       Flora dan Fauna spesifik

Beberapa flora dan fauna spesifik di kampung Beneraf yang juga merupakan sumber kebutuhan adalah :

1)         Flora :

Meliputi jenis tumbuhan yang ada meliputi tumbuhan yang dipelihara (budidaya) seperti: Kelapa, Mangga, Kakao, Pisang, Kendondong, Pinang, Nanggka, Pepaya, Jambu biji, Jambu bol, Ubi kayu, dan Ubi jalar serta beberapa jenis sayur-sayuran seperti : Bayam , Kangkung ,Kacang panjang ,Terong dan Pare serta di pekarangan Jahe dan sereh. Sedangkan tumbuhan liar ( non budidaya ) terdiri  dari Ketapang, dan Waru jenis merayap di bagian pantai yaitu katang-katang ( pescaprae ) dan Rumput Teki, dll.

2)         Fauna :

 Beberapa jenis fauna yang di jumpai adalah seperti : kangguru (lao-lao), Ayam ,Bebek,Kambing, Babi, ( kar ), Kasuari, ( Kuou ) Buaya, (sorom )Kuskus, ( merau ) Biawak, ( bibe ) dan berbagai jenis burung  Kakatua, ( ozon,kwaiba, kuere ) Nuri, ( biero ) Cenderawasih, ( nabuake ) dan Mambruk ( meres ) sedangkan jenis ikan di laut yang biasanya ditemukan nelayan adalah Ikan Bobara, Tengiri, Lasi putih, Daun tebuh,dan Udang serta beberapa jenis ikan lainnya.

 KEPENDUDUKKAN

 A.      Jumlah Penduduk Dan Keluarga

Berdasarkan data yang di dapat dari LAPORAN PENDUDUK KAMPUNG BENERAF bulan Februari – Maret 2010 dari kepala kampung,

No. Jenis kelamin Jumlah
1. Laki-laki 358 Jiwa
2. Perempuan 347 Jiwa
Total : 705 Ji

Tabel 1. Data penduduk berdasarkan jenis kelamin, Bulan Maret 2010

  • Jumlah kepala keluarga : 170 KK

 B.      Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian

No. Jenis mata pencahariaan Jumlah
1. TNI / POLRI 1 Orang
2. PNS 1 Orang
3. Pengusaha/pedagang 5 Orang
4. Kontraktor 4 Orang
5. Tukang kayu 2 Orang
6. Sopir 3 Orang
7. Motoris perahu jonhson 4 Orang
8. Ojek
9. Nelayan
10. Tukang batu
11. Petani 172 oran

Tabel 2. Data penduduk berdasarkan mata pencahariaan Maret 2010

 C.      Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama

No. Nama Agama Jumlah
1. Islam 20 Orang
2. Kristen protestan 685 Orang
3. Kristen katolik
4. Hindu
5. Budha
Total : 705 Oran

Tabel 3. Data penduduk berdasarkan agama


KEADAAN SOSIAL EKONOMI

 A.      Sistem  Pemerintahan

1)      Pemerintahan kampung & Kelembagaan kampung

Sesuai dengan penjelasan diatas, kampung beneraf secara resmi menjadi kampung definitive di bawah wilayah territorial kabupaten sarmi pada tahun 1990. Semenjak itu kampung beneraf masih merupakan gabungan 2 kampung  namanya “Yanbe” kepanjangannya “Yamna beneraf”. Kampung ini kemudian mekar menjadi kampung sendiri yaitu kampung beneraf hingga sekarang. Sistem pemerintahan kampung beneraf secara politis merupakan jelmaan dari kepemimpinan adat yang secara universal juga terjadi dibeberapa kampung lainnya di Papua secara khusus di kabupaten Sarmi.

Hal diatas dapat dilihat dari system pemilihan kepala kampung yang masih menggunakan beberapa Kriteria-kriteria yang terdapat di sitem pemilihan “pimpinan adat/ondoafi” satu diantaranya adalah “Setiap kader yang naik harus berasal dari klen/marga asli pemilik hak atas tanah ulayat”.

  Tidak hanya itu, beberapa contoh lainnya  juga dapat dilihat dari pengaruh kepemimpinan terhadap aparatur dan juga respons masyarakat terhadap kepala kampung yang sangat persuasif dan responsive dalam proses penerimaan kebijakkan namun dalam situasi yang salah masyarakat malah dapat berubah sebaliknya. Contoh lainnya yang dapat terlihat ialah jarak waktu kepemimpinan untuk menyiapkan kader pemimpin berikutnya yang membutuhkan waktu cukup lama disebabkan karena harus berdasarkan pada kriteria dan juga proses kesiapan kader yang akan memimpin.

Secara structural kepala kampung dibantu oleh beberapa KAUR (kepala Urusan), dan juga BAPPERKAM/BAMUSKAM sebagai lembaga pemerintahan kampung yang memainkan peran “semi legislative” yang bertugas menyelenggarakan musyawarah-musyawarah dan juga mengesahkan beberapa ketetapan-ketetapan sebagai aturan dalam kampung.

Kelembagaan lainnya yang juga membantu kepala desa dalam mengorganisir masyarakat kampung adalah : PKK, BABINSA, KARANG TARUNA, dan LINMAS

2)      Pemerintahan adat dan pengaruhnya dalam pemerintahan

System pemerintahan adat di kampung beneraf ini adalah system pemerintahan “Ondoafi”, salah satu tipe kepemimpinan tradisional  yang ada di Papua yang menunjukkan status kepemimpinan berdasarkan kategori wilayah (daratan, perairan, hutan, lembah, danau dan sebagainya). Khusus di beneraf ada 2 (dua) ondoafi yang memerintah dikampung ini, yaitu ondoafi di wilayah hutan dan ondoafi di wilayah pesisir.

Pengaruh kepemimpinan adat di kampung ini memainkan peran yang cukup penting dalam mengatur beberapa aktifitas masyarakat. Sebagai contoh misalnya : adat perkawinan, adat buka lahan dsb.

 3)      Pengaruh tokoh agama dalam pemerintahan kampung

Pengaruh tokoh agama dalam menata aktifitas masyarakat di kampung ini cukup besar, hal ini dapat di lihat pada saat-saat tertentu dimana, ketika ada pertemuan-pertemuan penting tingkat kampung tokoh agama juga di undang untuk turut berperan serta dalam pertemuan tersebut guna menyampaikan usul dan saran pada masalah yang dibahas.

 B.      Sistem mata pencahariaan

Kampung beneraf merupakan kawasan yang sangat potensial Sumber Daya Alamnya. Keadaan Topografi dan kondisi ekologi di wilayah ini menghasilkan jenis-jenis flora & fauna yang bervariasi. Hal inilah yang menyebabkan orientasi mata pencahariaan penduduk lebih dominan ke berkebun/berladang, berburu, dan melaut, dibandingkan dengan membuka usaha, buruh dsb.

 1)       Bekebun/berladang

Wilayah beneraf semenjak tahun 1993 telah dijadikan sebagai lahan perkebunan kakao oleh pemerintah kabupaten Jayapura seluas : 25 H,  kemudian pada tahun 2006 melalui Program “tiada hari tanpa menanam kakao” oleh Bupati Sarmi kawasan perkebunan kakao di tambah lagi seluas: 20 Ha melalui DAU Kab.Sarmi sehingga akhirnya menjadi : 45 Ha. semenjak kawasan ini dijadikan kawasan perkebunan kakao aktifitas mata pencarian masyarakat yang dulunya berburu dan meramu  berubah menjadi petani kakao. Hingga sekarang petani kakao jumlahnya mencapai ± 80 KK, sehingga kalau di representatifkan aktifitas perkebunan kakao merupakan aktifitas yang paling dominan di lakukan oleh sebagian besar penduduk kampung beneraf dalam rangka bermata pencahariaan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Di sisi lain, selain menjadi petani kakao, sebagian besar masyarakat di kampung beneraf ini juga membuka lahan perkebunan keluarga yang letaknya di pekarangan rumah mereka masing-masing. Jenis tanaman yang ditanam ialah : Ubi jalar, ubi kayu, kacang tanah, terong, cabe/rica, tomat, pisang, kankung, bayam, pare, pinang, pepaya, tembakau, kelapa, sukun dll.

 2)      Berburu

Berburu merupakan aktifitas bermatapencahariaan yang bersifat “sampingan” selain bertani/berkebun namun  dominan sering juga dilakukan oleh orang beneraf, alat-alat yang digunakan untuk berburu yang sering dipakai ialah Panah/jubi. Hewan buruan yang sering di dapat dan di konsumsi olehorang beneraf ialah babi hutan dan kangguru/lao-lao, sedangkan binatang buruan lainnya yang kadang di dapat ialah buaya, burung, kasuari, kus-kus dll. Aktifitas berburu ini konon sebelum masuknya perusahan kayu SOMALINDO yang merusak potesi hutan beneraf, binatang buruan sering dan mudah di buru di jarak yang dekat dari lokasi pemukiman, namun dewasa ini masyarakat sudah tidak mudah lagi untuk mendapatkan binatang buruan disebabkan karena pengaruhnya rusaknya hutan mereka terpaksa harus mencari ke tempat yang agak jauh dari lokasi pemukiman dan berhari-berhari di hutan.

 3)      Melaut serta menangkap ikan dan udang

 Sebagaimana telah di jelaskan di atas bahwa orang beneraf berasal dari suku “manirem” yang sebenarnya tinggal dan bermukim di daerah pedalaman SARMI. mata pencahariaan mereka masih bersifat nomaden berburu dan berkebun berpindah-pindah, maka untuk melakukan aktifitas bermata pencahariaan melaut, ini hanya merupakan mata pencahariaan “sampingan” yang jarang dilakukan disebabkan karena kurang terbiasa dan kurang memiliki pengetahuan tentang aktifitas “melaut” yang mendalam sedangkan laut benraf memiliki potensi hasil laut yang cukup baik. Hanya beberapa anggota masyarakat saja yang sering melaut. Berbeda dengan aktifitas “menangkap ikan/ udang di kali/sungai”, aktifitas ini sering dilakukan oleh sebagian besar penduduk kampung beneraf, alat yang digunakan untuk menangkap ikan dan udang di kali ini ialah panah/jubi, serok-serok, kalaway, tombak dan pancing.

KEADAAN SOCIAL BUDAYA

1. ORSOS DAN KEKERABATAN ORANG BENERAF

Orang beneraf berasal dari suku MANIREM yang didalamnya terdapar  6 (enam) sub-sub suku yaitu :

1)      DINSREF

2)      MERONTOUW

3)      KARANTOUW

4)      REIUTAN

5)      ENFOTOUW

6)      EDWASTOUW

  1. KEPEMIMPINAN TRADISIONAL

Sistem kepemimpinan tradisional di wilayah ini masih menganut system kepemimpinan tradisional “Ondoafi”. Kepemimpinan ondoafi di wilayah terbagi atas 2 (dua) wilayah kepemimpinan yaitu Ondoafi wilayah pantai, dan ondoafi wilayah hutan/pegunungan.

  1. HAK ULAYAT KEPEMILIKAN TANAH

Hak ulayat atau kepemilikan tanah di kampung beneraf terjadi secara komunal atau berdasarkan kekuasaan wilayah. Suku-suku yang memiliki hak ulayat atas tanah di beneraf adalah

1)         BINTEMWAI

2)         MAMBEN

3)         MUESMAN

4)         MINAWA

5)         OISBA

6)         SFASIDUAS

7)         ORTI

8)         RERAK

9)         DANYAU

  1.  KEPERCAYAAN TRADISIONAL

Masyarakat asli beneraf, pada umumnya masih menganut kepercayaan-kepercayaan tradisional, kepercayaan akan roh-roh halus, dan juga dewa-dewa laut dsb, yang di pandang memiliki kekuatan magic. Hal ini dibuktikan dengan masih diselenggarakannya upacara-upacara adat yang berhubungan dengan pemgusiran roh-roh halus, suanggi dll.

SARANA & PRASARANA KAMPUNG

 

A.      SARANA DAN PRASARANA PENDDIDIKAN

Di kampung beneraf terdapat dua unit sarana pendidikan yaitu SD YPK ORA ET LABORA BENERAF dan SEKOLAH KAMPUNG ANAK USIA DINI “MAJU BERSAMA” KAMPUNG BENERAF. Tenaga pengajar yang bertugas di tempat ini sangat minim, berdasarkan data yang saya dapat dari hasil wawancara dengan kepala kampung tenaga mengajar yang mengajar di SD hanya 2 orang guru honor, sedangkan yang mengajar di PAUD hanya 3 orang tenaga pengajar, sementara minat dan partisipasi anak dalam menuntut ilmu sangat tinggi.

 B.      SARANA DAN PRASARANA BIDANG KESEHATAN

Guna menerima pelayanan medis, dikampung beneraf tedapat 1 unit PUSTU (puskesmas pembantu) dan juga 4 orang kader posyandu, namun pada beberapa 5 bulan belakangan ini (terhitung mei 2010) pelayanan medis melalui sarana dan prasarana ini sudah jarang di buka sehingga masyarakat terpaksa harus ke PUSKESMAS BETAF untuk menerima pelayanan medis

 C.      SARANA DAN PRASARANA BIDANG KEAGAMAAN

Karena mayoritas penduduk yang bermukim di beneraf beragama Kristen, maka sarana ibadahnya yang terdapat di kampung ini hanyalah gereja, ada 2 unit gereja yang ada di kampung ini yaitu : GKI ORA ET LABORA dan GEREJA KINGMI, dengan masing-masing 1 pelayan jemaat (pendeta).

 D.      SARANA DAN PRASARANA EKONOMI

Aktifitas  perekonomian di kampung beneraf di tunjang dengan sarana I Pasar, 5 kios, 1 warung makan dan 3 pedagang local yang hanya bertempat dirumah.

 E.       SARANA TRANSPORTASI

Guna keperluan akssebilitas maka sarana penunjang transportasi yang digunakan ialah alat angkutan “TAXI”. Dengan penjelasan sebagai berikut :

–          Terminal penumpang bertempat di BIRI

–          Untuk akses Beneraf-Sarmi (P.P) alat angkut yang digunakan ialah taxi starwagon, minibus. Dan kijang, dengan tarif ± 30.000/orang

–          Untuk akses jayapura-beneraf alat angkut yang digunaka ialah taxi dengan merk mobil, avanza, inova, kijang capsule dll dengan tariff 150/orang

 F.       SARANA AIR BERSIH

Sarana dan prasarana penunjang air bersih di kampung beneraf ialah : sumur keluarga. Dan sarana penunjang air bersih lainnya ialah : KALI/SUNGAI. Masyarakat di kampung beneraf lebih dominan menggunakan air kali/sungai untuk mandi dan mencuci dibandingkan dengan air sumur, hal ini disebabkan kerena kebiasaan turun temurun sehingga untuk merubah perilaku masyarakat di kampung beneraf perlu waktu yang cukup lama.

 G.     SARANA PARAWISATA

Selain beberapa sarana-dan prasarana umum yang telah dijelaskan diatas, kampung beneraf juga memiliki potensi alam yang sangat menarik dan cocok untuk di jadikan potensi pariwisata. Lokasi pariwisata yang memiliki pemandangan cukup indah ini terletak di pesisir pantai kampung beneraf memanjang sampai ke muara kali uraner beneraf. Potensi pariwisata ini kini telah di bangun 1 unit rumah parawisata bagi para pengunjung yang ingin menikmati keindahan pesisir pantai beneraf.

KEADAAN PEMBANGUNAN MASYARAKAT DI KAMPUNG

  1. SUMBER POTENSI DAN PELUANG PEMBANGUNAN

Berdasarkan data yang didapat dari hasil pegamatan dan wawancara dengan beberapa anggota masyarakat dan aparat kampung, kampung beneraf memiliki Sumber daya Alam yang sangat potensial sebagai penunjang pembangunan. Potensi sumber daya alam ini mencakup potensi perkebunan dan pariwisata pesisir pantai, hal ini di buktikan dengan terdapatnya kawasan perkebunan kakao dan kelapa dan juga hasil kebun pekarangan rumah tangga yang memiliki hasil yang cukup baik dan banyak sementara di sisi pariwisata panorama pesisir pantai dan lautnya sungguh mempesona. Di lain sisi 2 tahun belakangan ini di temukan sumber daya hasil alam berupa tambang nikel, emas dan minyak di kampung ini oleh beberapa ahli tambang dari kanada.

Hal diatas sebenarnya merupakan peluang ekonomi bagi masyarakat yang dapat di kembangkan guna memenuhi kebutuhan hidup masyarakat dan juga dapat memberikan inkam bagi pemerintahan kampung.

UPAYA DAN PERMASALAHAN PEMBANGUNAN

  2.  Upaya pembangunan di kampung beneraf di lakukan semenjak terjadinya pemekaran wilayah  SARMI berdiri menjadi kabupaten sendiri yaitu kabupaten SARMI. Semnjak ini karateker Bupati SARMI Bpk. E. Fonataba dalam rangka mengejar ketertinggalan pembangunan dengan kampung lainnya di Papua melakukan beberapa program untuk pembangunan masyarakat. Program-program itu antara lain Program “tiada hari tanpa menanam coklat”, Program perumahan masyarakat, dan masih banyak lagi program lainnya yang dilakukan sebagai upaya mengejar ketertinggalan pembangunan di kampung terutama di era OTSUS.

                Dari  beberapa upaya pembangunan ini, yang menjadi masalah ialah ada beberapa program yang tidak terlaksana dengan baik dan juga tidak dimamfaatkan dengan baik oleh masyarakat. Sebagai contohnya misalnya pembangunan perumahan penduduk. PEMDA KAB.SARMI pada tahun 2008 menyelenggarakan program perumahan sebanyak 60 unit rumah bagi masyarakat dengan tipe 36  (6 x 6 dan 6 x 9). Perumahan ini dibangun ± 4 KM dari kampung induk. Dampak yang terjadi sesudah perumahan ini dibangun ialah ; terjadinya pemekaran wilayah pemukiman dan aktifitas, namun yang lebih parah lagi masyarakat tidak serius menempati rumah-rumah tersebut. Kemudian contoh kedua ialah program tiada hari tanpa menanam kakao oleh PEMDA SARMI. Program ini di lakukan pada tahun 2006 dengan membuka lahan perkebunan masyarakat seluas 20 Ha. namun dalam penyelenggraannya masyarakat mengalami kendala pada pemasaran hasil produksinya sehingga mengakibatkan ada beberapa anggota masyarakat yang kurang tertarik untuk melanjutkan kegiatan penanaman kakao ini.

KESIMPULAN DAN SARAN

Sebagai kesimpulan di akhir tulisan ini, ada beberapa pelajaran berharga yang saya temui di kampung beneraf yaitu  pada umumnya masyarakat beneraf sangat membuka diri kepada program-program yang bertujuan untuk pembangunan masyarakat sehingga dapat memudahkan para pihak yang ingin melakukan pembangunan di wilayah ini untuk menyelenggrakan program sehingga sebagai saran saya berharap kiranya dengan adanya PROFIL KAMPUNG ini dapat menjadi panduan bagi penyelenggraan pembangunan di kampang beneraf distrik pantai timur kabupaten sarmi.

Akhirnya, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dan mereponi penyusunan profil ini kiranya profil ini dapat menjadi suatu hal yang berharga dalam pelaksanaan pembangunan di kampung beneraf. “SELAMAT BERKARYA.

PROFIL KAMPUNG ANSUDU

Agustus 9, 2011 - Leave a Response

PROFIL KAMPUNG ANSUDU

 A.      Sejarah Kampung Ansudu

 Awal kehidupan masyarakat Sarmi  sebelum adanya Penginjil dan Pemerintah pada waktu itu hidup mereka dengan kondisi tradisional, masih percaya kepada animisme,  hidup berpindah tempat dan dikenal kanibalis, hampir sama dengan sebagian suku-suku yang lain di  Tanah Papua. Pada cerita asal-usul masyarakat Kampung ansudu, nama kampung pada awal itu adalah kampung wansu atau kwinsu yang artinya “hidup dalam kegelapan”. Ada tiga suku besar yang mendiami  kampung ansudu masing-masing, pertama Suku besar Ojomur/Sniwinik, kedua Suku Botboren, dan  ketiga Suku Sjaf bur-bar, mereka memakai nama tempat sebagai marga.

Masyarakat ansudu di kenal pandai berperang,  ini terbukti pada perang moyang dengan suku Viya dalam merebut tanah adat dan seorang putri, panglima Suku Besar Sniwinik menang dalam pertempuran berhasil membawakan putri kembali dan merebut tanah adat yang berkisar dari sungai Biri kearah timur sampai di kali Fwara, batas dengan masyarakat Taronta dan ke selatan berbatasan dengan suku Viya, disitulah mereka tetapkan batas alam antara Taronta dan Viya, Karena ketangkasan dalam berperang masyarakat ansudu di kagumi oleh suku-suku tetangganya, dan inggah sekarang masyarakat urban lokal yang menempati Kampung Komra dan di pinggiran Sungai Biri sangat menghargai dengan tidak merusak dan mengolah lahan yang ada dengan sembarangan. Seperti tempat keramat milik moyang kampung ansudu di pinggiran Sungai Biri yang disebut Bumurta oleh warga, hutan, berkebun, aktivitas mencari dan lain sebagainya di kampung komra.

Masyarakat pada kampung ansudu  merasakan dampak perang dunia ke II dan atau juga perang pasifik (pacific war), pada saat terjadinya pertempuran antara Sekutu Amerika dan Tentara Jepang  masyarakat ansudu pada lari ke hutan untuk bersembunyi menyelamatkan Anggota Suku, mereka bisa keluar dari hutan untuk kembali ke kediaman dan melakukan aktivitas,  bila adanya surat edaran atau pemberitahuan dari Pemerintah Belanda bahwa perang telah usai untuk sementara, di perkampungan warga sering menemukan  peninggalan sejarah berupa, Peluru, Bom yang masih aktif dan non aktif dengan  berbagai jenis.  Pada saat berakhir kedudukan koloniel di New Guinea (pulau papua) warga papua khususnya masyarakat sarmi (ansudu) pada saat itu dengan motivasi dan situasi politik yang tidak menentu membuat masyarakat di bawah dan atau terbawah oleh  warga belanda dengan  KM. Dorman ke Negri Belanda.

Setelah Sarmi dimekarkan menjadi kabupaten perumahan masyarakat ansudu masih terletak di kampung tua (wansu) di pinggiran bibir pantai Wirburter yang berhadapan langsung dengan lautan pasifik, pada perkampungan tua (wansu) kehidupan warga  tidak selalu nyaman, hal-hal yang tidak di inginkan warga seperti gelombang laut yang tinggi hingga terjadinya abrasi pantai, keadaan ini sering di alami warga, puncak kejadian Gelombang Tsunami yang menghantam perkampungan tua (wansu) dan perkampungan lainnya tepatnya pada sore hari ( 15 :00 wit) 11 November 2008 kejadian ini membuat warga ansudu harus mengungsi ke  bangunan Sekolah Dasar (SD) YPK tiga atap,  walaupun tidak memakan korban jiwa namun membuat warga trauma, pada sore itu juga Bupati dan jajarannya mengunjungi setiap korban bencana alam pada perkampungan yang berada di sepanjang pesisir pantai.

Keadaan trauma ini memaksakan kebijakan bupati untuk memindakan para korban bencana alam (warga ansudu) ke perumahan rakyat yang masih dalam proses pembangunan. Warga pada kampung ini mendapatkan 60 unit rumah dan di tempatkan di setiap rumah yang telah di bangun pada  jalan utama kabupaten dan jalan masuk ke kampung tua (wansu) dilihat dari jumlah penduduk yang padat dan jarak antara jalan kabupaten ke kampung tua (wansu) berjarak + 5 Km, ini membuat orang tua-tua yang ada, membawakan aspirasi ke para pembuat kebijakan  untuk memekarkan kampung ansudu menjadi dua kampung yaitu kampung ansudu I atau kampung induk yang terletak di sepanjang  jalan ke kampung tua (wansu) dan kampung ansudu II atau kampung pemekaran yang terletak di sepanjang jalan kabupaten, dari terminal biri  hingga dengan kampung betaf II.

B.      Letak dan Kondisi Geografis

 Letak kampung ansudu I terletak di distrik pantai timur Kabupaten Sarmi. Jarak antara kampung ansudu I dengan jalan kabupaten jayapura – sarmi berjarak + 4 km dan dengan distrik pantai timur +25 Km.  Secara adminitratif kampung Ansudu I berbatasan dengan:

Sebelah Barat                     : Ibukota Distrik/kampung Betaf II.

Sebelah Utara                    : Samudra Pasifik.

 Sebelah Timur                  : Sungai Biri.

 Sebelah Selatan                 : Kampung Ansudu II/Srem.

Luas kampung Ansudu I 200 km2, Kampung Ansudu I hampir sama hal dengan kondisi geografis yang berada di kampung tetangga, kampung ansudu I merupakan beriklim tropis, dataran rendah, bagian timur dan bagian barat di dominasi oleh hutan tropik, sebagian wilayahnya merupakan perkebunan Kakao dan Kelapa, lahan kintal rumah warga juga dimanfaatkan menanam sayuran, ubi-ubian,  pisang, tebuh dan lain sebagainya. Kampung ini didomonasi oleh hujan tropik ini berada pada dataran- dataran rendah yang diselilingi oleh rawa yang di genangi sungai-sungai kecil melewati daerah tersebut, musim hujan berkisar antara bulan oktober, November dan desember, musim laut teduh antara bulan januari inggah bulan mei.

 C.  Penduduk

 Jumlah penduduk pada Kampung Ansudu I 167 jiwa terdiri atas 30 kepala keluarga. Dari total penduduk diketahui bahwa jumlah penduduk laki-laki 94 jiwa dan jumlah penduduk perempuan 73 jiwa.

D. Pendidikan

Di kampung Ansudu I terdapat sebuah sekolah dasar yaitu SD YPK Ansudu dengan alaman bermain yang luas, terdapat juga 3 ruangan lama, 3 ruangan baru di bangun, 1 rumah kepala sekolah, dan belum adanya kantor para guru, jumlah murid pada SD YPK Ansudu  berjumlah 47 siswa yang masih aktif pada tahun ajaran 2009-2010, Proses belajar-mengajar di dalam ruangan masih memakai 3 ruangan lama dengan pembagian kelas, kelas I dan II satu ruangan, kelas III dan IV satu ruangan, dan kelas V dan VI satu ruangan dengan batas antar kelas masing-masing ruangan 2 barisan kursi ke belakang. Menurut salah seorang guru honorer bahwa Pada tahun ajaran baru 3 ruangan akan difungsikan, Para murid bukan berasal saja dari Kampung Ansudu I tetapi ada juga dari kampung tetangga seperti kampung Ansudu II/Srem, jarak kampung tetangga kurang lebih +2 km ke sekolah.

Pada SD YPK Ansudu terdapat 5 tenaga pengajar terdiri dari guru PNS 2 orang, guru Honorer 3 orang dan penjaga sekolah/mandor 1 orang, sumber-sumber yang dapat dipercaya selama ini SD YPK Ansudu  mengalami banyak permasalahan internal dan eksternal  sehingga proses belajar-mengajar  terhambat, dimana para guru PNS tidak menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pengajar yang benar, tidak menetap di tempat tugas, kepala sekolah tidak transparan dalam penggunaan danah-danah bantuan yang ada, intinya bahwa  tidak adanya kebersamaan yang cocok dalam mengembangkan mutu pendidikan.

Juga yang menjadi kendala pendidikan di kampung ini, para orang tua kurang memahami bahwa pentingnya pendidikan, dimana fungsi orang tua sebagai motivator kurang berperan penting, ini terbukti dengan hasil temuan wawancara dengan sebagian murid yang tidak masuk sekolah,”mengapa adik dong tidak masuk sekolah”? “Kita punya pakaian kotor jadi tra masuk sekolah,” orang tua harus menyediakan perlengkapan sekolah, menyediakan sarapan pagi dan memastikan bahwa anaknya benar-benar ke sekolah.

 Dalam menjalankan proses mengajar di sekolah peran guru honorer lebih menonjol, mereka mengajar seadanya dengan buku-buku kurikulum 1994, banyak sekali keterbatasan namun mereka telah memberikan nafas yang sangat berarti. Walaupun proses belajar mengajar terlampau tertinggal, ini tidak menyulitkan para Guru Honorer yang notabene adalah orang asli setempat yang berfikir bahwa pendidikan itu penting, salah seorang guru honorer yang mengabdi mengajar adalah ibu Everdina Wouw, alamat rumahnya berada di kampung Ansudu II/ Srem namun kegigihan terhadap pendidikan selalu ada, ia relah setiap pagi membawah para murid yang berada di kampung tersebut, bersama-sama berangkat ke sekolah, keadaan cuaca sering tak bersahabat, panas, hujan dan sering harus menempuh ke sekolah dengan  berjalan kaki, semua itu ia lakukan dengan tujuan murid-muridnya harus menimbah ilmu demi bekal masa depan mereka yang lebih baik dari generasi sekarang yang ada.

Berikut adalah tabel sekolah dan jumlah murid:

Sekolah

Jumlah Murid

Jumlah Guru

Laki-laki Perempuan
SD YPK Ansudu 27 siswa 20 siswi 5 Guru

Data: pengamatan dan guru honorer.

E. Kesehatan

Di kampung Ansudu I  terdapat kader kesehatan seperti kader  Posko Obat Kampung (POK), kader Posyandu, kader pertolongan Ibu Melahirkan, namun kader –kader ini sudah 1 tahun tidak berjalan. Berdasarkan informasi dari tenaga medis kepala puskesmas Betaaf yang baru  dr. Alberth Tokoro, diketahui bahwa jenis penyakit yang di derita warga adalah sering mengalami low back paint (LBP) karena aktivitas mengangkat barang berat sehingga tulang belakang sakit, muntaber, TBC/ paru-paru, inpeksi saluran pernafasan atas ( ISPA).

Berdasarkan sumber-sumber data dari masyarakat di ketahui bahwa warga juga sering mengalami penyakit Malaria, Kurang Darah (anemia), batuk beringus, penyakit kulit, menurut kepala puskesmas betaaf pada anggaran tahun 2011, akan diresmikan Pustu  di Kampung Ansudu II yang terletak berhadapan dengan mata jalan Kampung Ansudu I, bangunan pustu yang sangat strategis  ini di lengkapi dengan kamar tidur bagi perawat, ruang pelayanan, ruang penyimpanan obat-obatan, kamar mandi dan dapur, pelayanan Pustu tersebut  akan melayani masyarakat di 3 kampung yaitu kampung komra/biri, Ansudu I, Ansudu II/Srem, akan di tempatkan tenaga perawat  2 orang dan  sedangkan pelayanan dokter sendiri dalam  seminggu 2 kali akan mengunjui pustu tersebut.

F. Sosial Budaya dan Ekonomi

Sistem sosial budaya yang dikenal di kampung Ansudu I dimana terdapat sistem stratifikasi sosial dengan pembagian kelompok masyarakat yang memiliki sejumlah areal tanah ulayat yang besar disebut kepala suku serta kelompok masyarakat adalah kelompok yang tidak memiliki tanah ulayat.

Sistem kekerabatan dalam masyarakat kampung Ansudu I di kenal dengan garis keturunan bersifat patrineal yaitu garis keturunan mengikuti garis keturunan ayah. Dengan demikian anak laki didalam keluarga mempunyai peluang yang lebih besar untuk mewarisi kekayaan keluarga yaitu tanah atau pun melanjutkan keturunan oleh ayahnya. Pada umumnya marga-marga yang mendiami kampung ansudu I yaitu sniwinik, yankesman tananar, waren, tibut, virtar dan lain-lain.

Pengelompokan marga-marga menurut kampung-kampung yang ada di Distrik Pantai Timur di karenakan oleh adanya sub-sub etnit masyarakat di Distrik Pantai Timur yang telah ada sejak dulu.

Adapun sarana yang telah di bangun oleh pemerintah yaitu sarana Ibadah 1 gedung gereja, masyarakat di kampung Ansudu I mayoritas memeluk agama kristen Protestan, Sarana air berupah Sumur Bor/ memakai gorong-gorong dan juga pada kampung ini telah di sediakan sarana transportasi berupah 1 unit Truk. Prasarana ekonomi berupah kios di kampung Ansudu I sudah ada, warga biasanya menjual kebutuhan seperti rokok, gula, susu, mie instan, makanan kaleng, BBM berupah bensin, solar dan lain-lain. Masyarakat di kampung Ansudu I sama dengan kampung-kampung yang lain seperti Komra dan Ansudu II dimana masyarakat belum semua memahami tentang nilai uang sehingga hasil usaha pertanian, pencarian/berburuh yang diperoleh lebih banyak digunakan untuk komsumsi keluarga.

Aktivitas usaha seperti tanaman kakao hanya sebagian warga yang menekuni, masyarakat sering menjual kepada para tengkulak dengan nilai yang tidak menentu kadang naik turun harga jualnya kadang Rp.6.000/kg, Rp.7. 000/kg inggah Rp.10. 000/kg, juga sesama warga masih ada system barter yang dilakukan karena nilai kekeluargaan tinggi saling melengkapi dengan menukar barang itu masih ada. Kebutuhan yang dilihat cukup menonjol di kampung Ansudu I yang berkaitan dengan pengeluaraan ekonomi tinggi yaitu tingkat kebutuhan BBM berupah bensin, Pinang, rokok buah seperti rokok surya besar, rokok anggur kupu dan lain-lain.

Baca entri selengkapnya »

Buah Delima dalam Bibir Zulaikha

Juli 22, 2011 - Leave a Response

Buah Delima dalam Bibir Zulaikha

Cinta adalah daun yang embunnya adalah air matanya
Dan shamsuddin adalah matahari. Setiap pagi ia mengisapnya
hingga keringlah kehijauannya, menjadi daun layu yang menjadi
kupu-kupu terbang tanpa tubuh,
tinggal jiwanya yang melayang-layang menjadi rindu.
Rindunya adalah bukit yang memantulkan suara kekasihnya,
adalah napas yang meniupkan seruling kekasihnya,
adalah tanganyang memetikkan harpanya.
Shamsuddin, karena kau, dia merasa
cinta adalah perpisahan yang di persatukan oleh rindu tak
berkesudahan.
Karena itu katamu, Maulana,
cinta tak diperuntukan bagi mereka yang lemah.
Hanya mereka yang kuat bisa menanggung cinta.
Karena cinta merobohkan rumahnya, cinta
mengebursamudra menjadi kawah berapi, cinta
mengubah gunung menjadi sebutir pasir, cinta
mengasah batu menjadi mutiara, cinta
menanggung derita menjadi anugrah, cinta
membuat perpisahan menjadi persatuan, cinta
mengubah yang fana menjadi yang baka.

 

Di meja Zulaikha, perempuan-perempuan mengiris jeruk
mata mereka terpesona akan ketampanan Yusuf.
Wahai, mengapa dengan pisau mereka mengiris jari-jarinya
dan bukan buah jeruknya?
Adakah cinta akan Yusuf membuat mereka terlena
dan lupa akan rasa sakit
sedang jari mereka lagi teriris?
Memang, karena cinta, yang pahit jadi manis, yang keras menjadi lunak,
yang buram menjadi terang, yang sakit jadi sehat, yang tuan jadi budak.

 

Yusuf berdiri nun jauh di sana
tapi Zulaikha menyimpan dia dalam rindu hatinya.
Adalah Yusuf di matanya, bila ia melihat
lilin itu mencair karena api.
Adalah Yusuf di bibirnya bila ia mencium
mawar yang sedang berbunga.
Adalah Yusuf di pelukannya, bila ia merasakan
kehangatan mentari membelai tubuhnya.
Adakah Yusuf di selimutnya,
bila ia merasakan kedinginan malam dan kesepian bintang-bintang.
Adalah Yusuf dalam air matanya, bila ia melihat
bulan pergi berpisah dari pagi.

 

Cinta adalah buah delima
Merah dalam bibir Zulaikha.

 

2006 Guayasamin

 

Di saduk dari : Majalah BASIS, Hal, 54-59
Nomor 03-04, Tahun Ke -55, Maret – April 2006

 

Ke Surga dengan Menari Sama

Juli 22, 2011 - Leave a Response

Ke Surga dengan Menari Sama

Banyak jalan menujuh Allah, ya Maulana.
Tapi kau pergi ke sana dengan menari riang gembira.
Banyak jalan menuju surga, ya Maulana
Tapi ke sana kaupilih berjalan di jalan sama.
Dari Tabriz Shamsuddin datang ke konya
mengajarimu menari sama, katanya
jangan kau menari sama bila dunia masih mengikatmu
tak bisa kau menari sama bila nafsu masih membelenggumu.
Hanya bila kaujatuh cinta pada-Nya
kau bisa menari sama.
Dengan sama kau menari
Dalam sama kautemukan Dia.
Carilah Dia dengan menari sama dan Dia
akan kautemukan lebih besar daripada yang kau kira.

 

Alastu bi rabbikkum, bukankah aku adalah Tuhanmu
Bala shahhidna,  ya kami adalah saksinya.
Tak ada di dunia ini yang lebih indah dan baik daripada
alam alastu, ketika ciptaan dicipta untuk pertama kalinya
tanpa cacat dan noda sedikit jua.
Kau bilang Maulana, kami semua adalah anak-anak Adam
yang selalu teringat, alam alastu itu penuh dengan musik
surgawi, kendati kami sudah tertutup debu keraguan
dan ketidaktahuan di dunia ini. Suaranya masih terdengar merdu,
membuat hati tertindih rindu. Di sana setiap ciptaan menari-nari,
mengikuti irama musiknya. Tak ada satu pun yang mahu ketinggalan,
surga diatas dengan bulan bintangnya, sampai bumi di bawah
dengan debu pasirnya, semuanya  menari, rindu kembali
ke alam alasta.
Jalan ke surge adalah jalan menari bersama semua yang tercipta
maka bagimu Maulana, sama adalah undangan bagi manusia
untuk menuju ke sana.
Keriat-keriut pintu surga mendengar sama.
Dengarlah, pintu surga sedang menutup karena sama, kata lawanmu.
Tidak, katamu, dengarlah, pintu surga sedang membuka mendengar sama.
Siang hari di kota Konya
Salah ad-Din Zarkub sedang menyepuh emasnya.
Wahai, betapa indah embusan sepuhannya
memenuhi pasar dengan irama sama
meniupkan rindu pulang ke alam alatsu.
Maulana dicekam doa, diajaknya Salah ad-Din Zarkub
berputar-putar menari-narikan sama.
Emas disepuh menjadi tari
Pasar disepuj menjadi sunyi
Kerja disepuh menjadi doa.
Maulana menemukan surga
di pasar yang ramai dan sesak dengan dunia.

2006

Di saduk dari : Majalah BASIS, Hal, 54-59

Nomor 03-04, Tahun Ke -55, Maret – April 2006

Di Sinilah Aku

Juli 22, 2011 - Leave a Response

Di Sinilah Aku

Bulan menangis, ketika malam tiba
iba, melihat dia ditelan putus asa.
Di setiap sudut malam telah dicarinya Dia.
Mengapa tiada juga jawaban “Di sini Aku”.
ia pun terdiam lelah dan menyerah kalah.
 
Langit sunyi bintang-bintang sepi
Awan tersedu dalam isak hujan yang tertahan
Nabi Khidir turun berkereta hijau-hijau dedaunan
menegunya, mengapa kamu membiarkan setan mengejekmu
sia-sia doa, karena Dia yang kau panggil dengan seru
tiada memberi  jawaban, “Di sini Aku”.
Kenapa tak kaupanggil lagi nama-Nya, menyesalkah kamu
karena sia-sia sajalah hatimu merindu?
Katamu Maulana, datangnya Nabi Khidir adalah tanda
tiada pernah sia-sialah kamu beribu kali berdoa menyerukan allah.
Sekali saja kamu menyeru ya Allah,
seribu kali terjadi Dia mendatangi kamu.
 
Di sinilah Aku : dalam keraguanmu
Di sinilah Aku : dalam kekawatiranmu
Di sinilah Aku : dalam kebingunganmu
Di sinilah Aku : dalam ketakutanmu
Di sinilah Aku : dalam keputuasaanmu
Di sinilah Aku : dalam kegelapanmu
Di sinilah Aku : dalam kemarahanmu
Di sinilah Aku : dalam kekerasanmu
Di sinilah Aku : dalam kesalahanmu
Di sinilah Aku : dalam dosamu.
 
Maka Maulana, ajarilah aku percaya:
keraguanku adalah kepastian-Nya
kekhawatiranku adalah Jaminan-Nya
kebingunganku adalah petunjuk-Nya
ketakutank adalah keberanian-Nya
keputuasaanku adalah harapan-Nya
kegelapanku adalah Terang-Nya
kemarahanku adalah kesabaran-Nya
kekerasanku adalah kelemahlembutan-Nya
kesalahanku adalah pengampunan-Nya
dosaku adalah rahmat-Nya.

2005

Di saduk dari : Majalah BASIS, Hal, 54-59

Nomor 03-04, Tahun Ke -55, Maret – April 2006

Tukang Rombeng

Juli 22, 2011 - Leave a Response

Tukang Rombeng

Hati dari kulit rubah lewat di depan rumah
Berilah aku sebuah, puas rasanya sudah.
Di mana mesti kubeli hati
di hari sepagi ini?
Pedagang mantel kulit rubah berkeliling di kota Konya.
Maulana baru terbangun dari tidurnya.
Tilkϋ, tilkϋ, teriakan pedagang menawarkan mantelnya.
Dilkϋ, dilkȗ,sambut maulana dalam doanya.
pedagang meneriakkan, “ Rubal, kulit rubal.”
Maulana menjawabnya, “ Di mana hatiku, di mana hatiku.”
Tilkϋ itu rubah, Maulana, tapi bagimu
Tilkϋ itu dilkϋ: di mana hatiku?”
Telingah hatiku mendengar tilkϋ menjadi dilkϋ.
Sujudmu mengubah rubah menjadi rindu
akan kekasih hatimu.
Tuhan tak hanya kau temukan dalam doa.
Dalam pedagang kulit rubah pun kau merasakan Dia.
Tiap pagi lewat depan rumahku
penjual roti penjual tahu pedagang minyak pedagang sayur
tukang patri tukang sepatu.
Di telingaku teriakan mereka hanyalah roti tahu minyak sayur
patri dan sepatu.
Adakah dibalik roti itu kelaparanku akan Dia?
Adakah dibalik tahu itu kerinduan itu mengetahui-Nya?
Adakah dibalik minyak itu yang menyalakan cinta-Nya?
Adakah dibalik sayur itu kesegaran yang hendak dianugerahkan-Nya?
Adakah dibalik patri itu lubang yang hendak di masuki-Nya?
Adakah dibalik sepatu itu alas kaki-Nya?
Maulana, ajarilah agar telingahku mendengar yang lain dari pada
yang aku dengar, karena hatiku mau mendengar Dia dalam segala
yang sehari-hari aku dengar.
Sekarang, seperti katamu Maulana, tiap hari aku akan belajar rindu
agar tukang rombeng selalu lewat depan rumahku.
Dan bila ia berteriak “rombeng”, dan bertanya, adakah sepatu bekas
atau baju tua yang hendak kujual, aku akan menjawabnya,
sepatu bekas atau baju tua aku tak punya, yang kupunya adalah segala harta
tak berguna, yang menyesaki rumah hatiku, tumpah ruah.
Ambillah harta itu, dan kosongkanlah rumah hatiku.
Sitilah segala yang memenuinya.
Biar disana tiada lagi lagi apa-apa, yang bisa mengotorinya:
biar hatiku tersedia menjadi rumah-Nya.
Maulana, dulu tukang rombeng itu lewat setiap hari
mengapa kini dia tak juga datang-datang lagi?
Adakah aku terlalu miskin baginya,sampai ia mengira aku tak punya apa-apa.
Atau adakah aku trlalu kaya baginya, sampai ia tak berani datang untuk memintah?
Dilkȗ, dilkȗ, di manakah bias kudapatkan hatiku?

2006

Di saduk dari : Majalah BASIS, Hal, 54-59

Nomor 03-04, Tahun Ke -55, Maret – April 2006

Mengenang Jalaluddin Rumi

Juli 22, 2011 - Leave a Response

Mengenang

Jalaluddin

Rumi

 

S  I  N  D  H  U  N  A  T  A

 

Singgasana Hati

Maulana, bagimu, hati adalah kebun yang dihujani
tetes-tetes rahmat-Nya, yang sejukdiembusi
sepoi-sepoi angin rencana-Nya.
Tak pernah hati itu diam, bermalas-malas
karena hati adalah air yang senantiasa mengalir.
Hati adalah telaga, padanya Sang Pencipta
memantulkan Wajah-Nya.
Hati adalah api yang menyalahkan cinta.
“Langit dan bumi tak dapat melingkupi aku,
tapi hati kekasih-Ku melingkupi Aku.”
Ya hati adalah singgasana, yang haus mencari,
agar diatasnya bertakhta Allah sendiri.
Mengapa Maulana, kini demi aturan-aturan suci
aku sering dipaksa untuk pergi dari hatiku?
Hingga aku tak disegarkan tetes rahmat-Nya karena aku bukan lagi kebun-Nya.
Hingga aku tak mengalir karenaaku bukan lagi air-Nya.
Hingga aku kehilangan wajah-Nya karena aku bukan lagi telaga-Nya.
Hingga Dia sendiri pergi karena aku bukan lagi takhta-Nya.
Maulana, aku telah kehilangan hatiku,
hingga aku tak dapat lagi menjerit kepada-Nya,
Dan ketika Dia bertanya, apakah kamu mencintai Aku,
aku tidak bisa menjawabnya. Karena dalam diriku
Tiada lagi air, tiada lagi hujan, tiada lagi angin, tiada lagi api
yang menghidupi aku untuk menjawab cinta-Nta.

2006

Di saduk dari : Majalah BASIS, Hal, 54-59

Nomor 03-04, Tahun Ke -55, Maret – Apri